adityawarmanfw

Tuhan dan Perempuan

Aku adalah pengetahuan, Akulah yang mengetahui dan Akulah yang diketahui

ESAI | AGAMA | TUHAN

Tuhan dan Perempuan

Aku adalah pengetahuan, Akulah yang mengetahui dan Akulah yang diketahui

Ibn ‘Arabi — yang bergelar al-Syaikh al-Akbar, dan terkadang juga dikenal sebagai al-Kibrit al-Ahmar — adalah seorang sufi yang sangat dikagumi, sekaligus sufi yang dibenci, baik pemikirannya, pun kehadiran fisiknya. Pemikirannya telah dikaji oleh banyak sarjana Islam. Pembahasan hal-ihwal mistisisme agama, akan sangat sulit terjadi tanpa melibatkan gagasannya. Akan tetapi, oleh orang-orang lain yang tak sepemikiran dengannya, ia dianggap sebagai tukang bidah, zindiq, gila, bahkan kafir. Dicaci maki sedemikian rupa. Pengikut ajarannya pun, sampai saat ini, tak pernah lepas dari berbagai celaan.

Salah satu gagasan Ibn ‘Arabi adalah tentang tajjali al-Haqq — penampakan diri Tuhan Yang Maha Benar. Tuhan, menurutnya, memanifestasikan diri-Nya dalam keseluruhan yang ada; segala sesuatu memancar dari-Nya. Konsep tajjali ini bisa dikatakan adalah sumbu pemikiran Ibn ‘Arabi.

Tuhan rindu untuk dikenal. Dalam hadis qudsi diriwayatkan, “Aku ciptakan makhluk, sehingga melalui-Ku mereka mengenali-Ku.”

Tajjali adalah proses; Yang Esa menampakkan diri dalam beragam bentuk, pemikiran, dan keyakinan yang tak terbatas. Ia menampakkan diri-Nya dalam rupa yang berbeda-beda, dan respons manusia terhadap tajjali Tuhan juga akan beragam dan berbeda-beda, hingga pada gilirannya, menyebabkan keyakinan dan agama yang beragam pula.

Pernah ketika sedang thawaf, ia berjumpa dengan sesosok perempuan cantik, yang membelai pundaknya dari belakang, lalu berkata pada Ibn ‘Arabi, “Aku adalah pengetahuan, Akulah yang mengetahui dan Akulah yang diketahui.” Ibn ‘Arabi sedang mengisahkan kisah perjumpaannya dengan Tuhan, dalam rupa seorang perempuan.

Dalam sebuah syairnya, ia berkata, tentang perempuan yang lain lagi, “Seluruh pengetahuan ketuhanan ini berada di balik tirai Nizam, putri guruku yang perawan, Syeikh al-Haramain, maha guru dua tempat suci dan al-‘Abidah (pengabdi Tuhan yang tekun).”

Merenungkan keilahian, menurut Ibn ‘Arabi, hanya dapat dicapai dengan merenungkan perempuan. Pengetahuan tentang ketuhanan (Ma’rifat al-Ilahiyyah) hanya bisa ditempuh melalui kontempelasi pada diri perempuan. Atau, dapat dikatakan, melalui perempuanlah Tuhan akan ditemukan, dalam Wujud-Nya Yang Maha Sempurna dan Maha Indah. [

Melihat-Nya dalam Mama

Tuhan yang pertama kali kukenal

cebolang.net

](https://cebolang.net/melihat-nya-dalam-mama-9698c278af7b)