adityawarmanfw

Postweg: Setelah Gerimis Berhenti*

Setidaknya orang-orang di kota ini percaya, bahwa sekadar gerimis tak akan membuat kota ini mati. Kota ini masih hidup dan terus siap menjadi saksi atas segala peristiwa yang akan terjadi.

Gerimis baru saja berhenti mengguyur kota ini. Aspal yang terbentang di sepanjang jalan tampak mengkilap basah dan memantulkan kembali lampu-lampu kendaraan yang melintas di atasnya. Trotoar masih sedikit becek, tapi mulai banyak orang-orang berlalu-lalang. Setidaknya orang-orang di kota ini percaya, bahwa sekadar gerimis tak akan membuat kota ini mati. Kota ini masih hidup dan terus siap menjadi saksi atas segala peristiwa yang akan terjadi.

Seorang perempuan memarkir mobilnya di dekat kantor PLN, beberapa meter di sebelah utara tempat pedagang buku bekas berjualan. Sebab tadi gerimis, tumpukan buku tua itu ditutup dengan plastik oleh si pedagang. Plastik tebal yang sering digunakan oleh para pembudidaya ikan di desa untuk membuat kolam kecil di halaman belakang. Warnanya buram. Seperti diselimuti embun. Tapi tentu saja itu bukan embun. Entah itu apa. Mungkin plastik itu berubah warna karena usia. Ya, pasti begitu.

Beberapa kali ia menziarahi tumpukan buku tua di trotoar itu, menelusuri judul yang tercetak di punggungnya, dan berharap menemukan sesuatu. Ia selalu datang malam hari, saat jalan sudah tak ramai, saat udara di kota ini mulai dingin dan suasana lebih tenang. Dengan begitu ia bisa lebih khusyuk dalam pencariannya. Terakhir kali ke sana, ia merasa sangat beruntung karena menemukan buku tebal karya penulis besar Rusia, Leo Tolstoy, yang berjudul Anna Karenina. Terjemahan bahasa Inggris. Cerita klasik itu dibacanya berulangkali. Akan tetapi, kali ini bukan itu tujuannya. Kali ini, si perempuan tak hendak mencari buku.

Setelah memutar kunci untuk mematikan mobil, tangan kirinya menggapai kaca spion tengah, mendongakkan wajah, lalu bercermin. Matanya sedikit sembab. Ia mengambil tisu dari tas kecil yang ia letakkan di kursi penumpang depan dan menempelkannya pada matanya. Setelah menyisir rambutnya sambil tetap bercermin, ia mencoba tersenyum. Memaksa wajahnya tersenyum. Ia sadar, rupanya, langit bukan satu-satunya yang bisa menurunkan gerimis.

Ia turun dari mobil, membetulkan mini dress hitam yang ia kenakan, menutup pintu dan memencet tombol kunci di remot yang digenggamnya. Ia berjalan ke arah Asia-Afrika, melintas pedagang yang mulai membuka plastik yang menutupi buku-bukunya.

Di seberang jalan ia lihat tulisan yang tercetak di dinding, yang seringkali ia lihat di media sosial teman-temannya, “Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum”. Akan tetapi, alih-alih membuat tersenyum, membaca tulisan itu justru membuatnya sedih. Benarkah Tuhan sempat tersenyum? Di dunia sesedih ini, benarkah Ia?

Ia berjalan ke timur. Menjauh dari alun-alun. Menjauh dari masjid. Sepulang dari tanah suci beberapa bulan lalu, ia justru makin jarang berkunjung ke masjid. Ia sendiri tak mengerti sebab pastinya. Meski ia tahu, bahwa tak perlu menunggu cinta untuk sebuah salat, baginya, entah bagaimana, ia yakin bahwa kedamaian tak akan ia temukan di sana malam itu.

Beberapa orang tampak berlalu-lalang. Berpasang-pasang. Bergerombol. Hanya beberapa yang berjalan sendirian seperti dirinya. Ia memerhatikan seorang bapak-bapak yang berusaha membetulkan resleting kostumnya yang nantinya digunakan untuk menghibur orang-orang malam itu. Kalau saja tak gerimis, pastilah bapak itu sudah di sini dan bekerja sejak sore tadi, batinnya. Ia terdiam. Berdiri di pinggir bagian dalam trotoar. Matanya masih tertuju, tapi pikirannya tak bisa setia pada bapak itu.

Sudah beberapa bulan sejak terakhir ia pulang. Ia tak tahu apa ia mesti pulang sekarang, ketika di rumah, keadaan keluarganya sedang tak baik-baik saja seperti sekarang. Tak seperti dulu, dulu sekali, ketika ia masih kecil. Sekarang begitu berbeda. Makin parah. Sebenarnya, dari beberapa kepulangan terakhir, sejak tahun lalu, ia sudah merasakan atmosfer yang kian lama kian tak mengenakkan di rumah itu. Ia tak tahu, apa sebenarnya yang bisa diperbuatnya? Kepulangannya tak akan berarti banyak. Ia sudah lakukan itu berkali-kali sebelumnya, dan tak mengubah apa pun. Ia tak tahu lagi apa yang mesti diperbuat. Ia enggan memihak dan tak akan memihak sebab ia tentu saja mencintai keduanya. Memihak yang satu akan memperparah keadaan yang lain. Menimbulkan kecemburuan dan kecurigaan yang tak perlu. Ia tak mau terseret terlalu dalam. Ia tak mau, meski terus ditarik-tarik. Tapi tentu saja ia tak bisa begitu saja mengabaikan dan kabur. Itu pun bukan pilihan, dan selamanya tak pernah menjadi pilihan. Itu menjadi masalahnya sekaligus bukan masalahnya. Ia berada di tengah, seperti di mata badai yang tenang, namun hancur luar biasa di sekitar. Diam di sana juga berarti menunggu semuanya hancur berantakan.

“All happy families are alike; each unhappy family is unhappy in its own way.”

Matanya kembali berkaca-kaca. Ia ingat kalimat pembuka novel klasik Anna Karenina itu. Ya, memang. Setiap keluarga yang tak bahagia, tak bahagia dengan caranya masing-masing….

Lamunannya buyar ketika ada yang melambai padanya. Dengan kostum lengkap, bapak tadi telah menjelma kelinci raksasa berwarna biru muda. Kelinci raksasa itu menghampirinya. Perempuan itu tersenyum. Ia menyambut kelinci raksasa itu, berjalan cepat, dan entah bagaimana kemudian memeluknya. Kelinci raksasa itu tak berkata apa-apa, diam. Tapi sejenak kemudian, tangannya yang besar, wangi dan berbulu lembut itu menyentuh ubun-ubun perempuan itu dan mengelusnya. Perempuan itu tersenyum. Ia memang sangat menyukai bila bagian atas kepalanya disentuh dan dielus seperti itu. Seolah-olah, segala yang membebani pikiran menjadi hilang. Satu tangan ia lepas dari pelukan dan ia pakai untuk mengusap matanya yang berkaca-kaca. Ia tersenyum lagi, lalu melepaskan pelukan. Seraya mengambil gawainya, ia ajak kelinci raksasa berwarna biru itu untuk berswafoto.

Sekarang perempuan itu berdiri di samping prasasti kilometer nol di Asia-Afrika, yang dulu dinamai De Grote Postweg. Ia ingat dari ayahnya yang seorang sejarawan, bahwa tepat di sini, dengan tongkat ditancapkan ke tanah, Gubernur Jendral Daendels pernah berkata, “Zorg, Dat Als Ik Terug Kom Hier Een Stad Is Gebouwd”. Artinya, “Coba usahakan, bila aku datang kembali, di tempat ini telah dibangun suatu kota.” Dan, jadilah kota ini. Kota yang bukan sekadar perkara geografis, tapi lebih jauh dari itu, tentu saja, melibatkan sejarah panjang penindasan yang menghinakan kemanusiaan. Ia lalu membelok ke Braga. Melewati sebuah gedung bioskop tua. Di sini, pernah ada tulisan “pribumi dan anjing dilarang masuk”. Ia tersenyum dan terus berjalan. Dulu, sekali waktu setelah makan malam di rumah, ayahnya pernah bercerita tentang itu. Tak ada kursi yang empuk untuk menonton biskop buat para inlander waktu itu. Inlander yang susah diakui sebagai manusia itu hanya bisa menonton bioskop dari balik layar. Itu pun sembunyi-sembunyi. Ah. Betapa zaman sudah berbeda sekarang.

Ia berjalan, Braga sudah cukup ramai sekarang. Ada orang-orang yang duduk di bangku kayu di pinggir dalam trotoar, meminum kopi buatan orang-orang yang tersingkir dari kehidupan. Ia melihat beberapa pemuda dengan kamera di tangan sedang mengelilingi seorang perempuan bermata kejora. Di jalan, kendaraan berjalan tak lancar, mulai mengendap mengular tanpa suara berlebihan. Agaknya orang-orang sini memang sudah tahu benar bahwa tak perlu membuang tenaga untuk memencet-mencet klakson. Mungkin memang benar bahwa mereka telah nyaman berada di kemacetan. Rutinitas biasa yang tak lagi menimbulkan gejolak emosi yang berlebihan. Barangkali ini salah satu di antara sedikit keberhasilan Walikota?

Ia duduk di salah satu bangku kayu itu. Di depan sebuah tempat makan yang dulunya bernama Populair yang menjual piringan hitam. Ia menunduk melihat gawainya, membuka pesan-pesan dari rumah beberapa hari lalu. Membacanya lagi. Mengingat-ingat beberapa potong kejadian.

“Teh, tisunya, teh?”

Ia mendongak. seorang anak kecil berkaus Batman menawarkan sebungkus tisu padanya. Ia pandangi anak itu lalu menggelengkan kepala. Anak kecil itu berjalan lagi tanpa keluhan. Lanjut menawarkan tisunya pada orang di dalam kafe di sebelahnya lewat jendela. Ia memerhatikan Batman kecil itu dan tersenyum. Aku tak butuh tisu, aku butuh coklat panas, batinnya. Tuhan menciptakan kesedihan, maka manusia menyeduh coklat dan meminumnya perlahan-lahan.

Ia masuk ke kafe di dekat tempatnya tadi duduk. Tak salah aku masuk ke sini, batinnya. Terdengar suara Frank Sinatra dari sudut, merambati tembok tua kafe ini dan memenuhi ruangan. Beberapa lukisan abstrak tertempel di tembok-tembok bercampur dengan iklan-iklan minuman. Ia memesan segelas coklat ke meja pemesanan, lalu berjalan ke belakang, ke tempat sebuah band lokal melantunkan lagu-lagu dari tahun 90-an. Ia tak tertarik dan memutuskan untuk mencari tempat yang nyaman di bagian depan kafe. Lagu dari band itu perlahan hilang dan berganti dengan suara Frank Sinatra lagi. Tak lupa ia memberi tahu pelayan bahwa ia akan mencari tempat duduk di depan.

Di dekat jendela, ia temukan wajah yang tak asing. Sering dijumpainya di kantin kampus tempatnya kuliah. Seorang pemuda, seumuran dengannya. Sendirian. Tiga botol bir kosong dan satu botol yang tinggal separuh tampak di mejanya. Asbak dihadapannya telah melakukan tugasnya dengan baik. Puntung-puntung menggunung. Ia sempat ragu, tapi ia hampiri pemuda itu dan menyapanya.

“Hai,” katanya pelan.

Pemuda itu mendongakkan pandangannya dari asbak yang dipenuhi puntung rokok yang menggunung. Ia memakai kemeja flannel tak dikancingkan, kaus lusuh, dengan jeans yang robek di lutut kiri. Seperti pakaian yang sering ia kenakan di kampus.

“Sendiri? Boleh, aku duduk di sini? Kamu dari kampus T kan?” kata perempuan itu, seperti tak perlu jawaban, menarik kursi yang ada di hadapan pemuda itu.

Pemuda itu membalas dengan anggukan.

“Permisi, coklat panas,” kata seorang pelayan perempuan membawa coklat panas yang tadi dipesan.

“Iya, saya, terimakasih,” jawab perempuan itu.

Bandung, Juni 2016.