Melati itu berwarna Merah

Cerita tentang Fusako Shigenobu dan Tentara Merah Jepang

Melati itu berwarna Merah

Cerita tentang Fusako Shigenobu dan Tentara Merah Jepang

Sesloki sake 9.000 Kilometer dari Rumah

TEL AVIV, 30 MEI 1972. Pesawat Air France Flight 132 dari Roma itu mendarat di Israel. Waktu itu hari Selasa, jam 10 malam di Bandara Lod, yang kini berubah nama menjadi Bandara Internasional Ben Guiron. Yasuyuki Yasuda, Tsuyoshi Okudaira, dan Kozo Okamoto keluar dari pesawat dengan setelan laiknya pebisnis. Nyaris tak ada kecurigaan bagi turis Jepang seperti mereka di bandara itu. Orang-orang acuh dan lebih tertarik pada kesibukannya masing-masing. Tapi tiga orang Jepang itu bukanlah pebisnis. Yang mereka tunggu dari sabuk mesin pengantar adalah kopor-kopor violin. Tapi mereka juga bukan musisi. Di tengah riuh bandara itu, dari dalam kopor mereka angkat senapan mitraliur tipe Vz. 58 buatan Cekoslowakia, juga sejumlah granat tangan. Peluru berdesing. Kaca-kaca pecah. Ketika peluru berhenti merentet, granat dilempar seperti jamrah. Bandara Lod berdarah hebat, 26 orang mati dan 74 orang luka-luka.

Keterkejutan kemanan Israel waktu itu segendang-sepenarian dengan pasukan Sekutu di Perang Pasifik pada akhir tahun 1944, pasukan Tiongkok di tahun 1984, dan pasukan Rusia di tahun 1905. Mereka tak pernah menyana akan berhadapan dengan jibakutai di medan laga. Bagi ketiga pemuda itu yang berjarak 9.000 kilometer dari rumahnya, tak ada lagi kata pulang. Sesloki sake telah habis ditenggak. Yasuda mangkat tertembus peluru temannya sendiri setelah magasin miliknya tak berisi lagi. Okuidara menyusul dengan meledakkan diri sendiri setelah menghujani pesawat El Al Israel Airlines yang baru mendarat dengan peluru. Tapi Okamoto hidup. Meski sebetulnya ia telah bersiap atau bahkan berharap untuk mati. Ia tertangkap oleh keamanan bandara ketika mencoba keluar dari terminal bandara untuk meledakkan pesawat yang tengah terparkir.

Dulu, keberanian dan kerelaan berkorban jiwa raga macam itu ditunjukkan sebagai wujud kecintaan pada Kaisar — sang titisan langit. Tapi pasca Perang Dunia II Kaisar telah kembali menjadi manusia. Hirohito sudah menyatakan bahwa dirinya dan para pendahulunya bukan Putra Langit. Dan ketiga orang itu memang tak pernah mencintai Kaisar. Sebaliknya, mereka adalah orang-orang yang bertujuan untuk meruntuhkan pemerintahan monarki Jepang. Hal itu tercermin juga pada pilihan identitas paspor mereka. Okuidara memilih lahir tanggal 26 Februari 1936 saat Tentara Imperial Jepang melakukan pemberontakan. Okamoto tampil di laga itu dengan meminjam nama Daisuke Namba, orang yang dieksekusi sebab percobaan pembunuhan Putra Mahkota Hirohito tahun 1923.

Operasi itu tergelar bukan sebab kecintaan pada Kaisar. Bukan juga sebab kecintaan terhadap Jepang yang merupakan tanah air bagi ketiganya. Dan tentu juga bukan semata untuk kesenangan. Ketika tertangkap, Okamoto tegas berkata, sekaligus memungkasi segala pertanyaan, “Aku percaya bahwa sebagai sarana untuk menuju revolusi dunia, aku mesti mempersiapkan terbentuknya Tentara Merah dunia … sarana untuk mendorong kita sendiri untuk hadir di panggung dunia … Aku tak punya masalah personal dengan orang-orang Israel. Itu semua adalah tugasku sebagai tentara revolusi.”

Ketiganya adalah anggota Sekigun — Tentara Merah Jepang. Tak lama setelah serangan itu, Juru Bicara Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina (PFLP), Bassam Abu Sharif, menyampaikan bahwa tiga orang itu punya nama Palestina; Bassem, Salah, dan Ahmed. Ia juga mengungkap, syahid yang terlibat di Tel Aviv itu bertindak tak lain untuk kemajuan pembebasan Palestina.

Itu semua bermula dari perjalanan sepanjang 200 meter dan siaran teve berwarna

PADA JUNI 1968, bermodal helm dan balok dua-kali-empat, pelajar di Universtas Todai dan Universitas Nichidai menduduki dan membarikade kampus mereka dari aparat kepolisian. Oguma Eiji, di penelitiannya berjudul Japan’s 1968: A Collective Reaction to Rapid Economic Growth in an Age of Turmoil, mencatat pendudukan kampus yang menyebar ke ratusan kampus lain dan ribuan sekolah menengah ini sebagai “Gerakan Zenkyōtō”.

Di universitas swasta terbesar di Jepang itu protes besar terjadi. Ada 90.000 pelajar di sana. Peter G. Kelman dalam disertasinya menyebutkan bahwa masalah di Nichidai memanas selama beberapa waktu ketika para pelajar mengkritik kediktatoran rektor mereka terhadap asosiasi dan aktivisme pelajar. Yang kemudian menyulutnya menjadi api besar adalah hilangnya lebih dari 2 Miliar Yen dari laporan keuangan universitas. Nichidai tak pernah punya sejarah pergerakan. Selama 80 tahun universitas itu berdiri, tak pernah sekalipun ada demonstrasi. Protes di Nichidai dimulai dengan cara yang luar biasa. Sekelompok kecil dari asosiasi pelajar Departemen Ekonomi menggelar demonstrasi dengan berjalan sepanjang 200 meter. Tak jauh. Tapi bukan berarti tak berat. Jarak itulah yang ditempuh oleh sekelompok kecil itu, guna membebaskan dirinya dan para pelajar lainnya dari belenggu ketakutan mereka. Dari situlah muncul keberanian — 200 meter untuk bangkit menentang birokrasi kampus yang bobrok, sanksi untuk pelajar, juga korupsi. Dan dari sekelompok kecil yang berjalan sepanjang 200 meter itu tercipta juga sejarah: Mobilisasi protes mencapai 35.000 orang.

Universitas Todai diduduki sampai setahun lamanya. Mereka akhirnya bubar setelah pada Januari 1969, pemerintah Tokyo memobilisasi 8.500 aparat kepolisian untuk mengepung kampus itu. The Japan Times mencatat sekira 10.000 gas air mata dilempar ke dalam kampus selama dua hari yang seperti perang. Meriam air dengan tenaga yang sama dengan pemadam kebakaran diarahkan pada mereka. Tapi yang di dalam tak diam saja. Sekitar 4.000–6.000 pelajar itu membalas; melempari aparat dengan ubin, molotov, kursi, bangku dari jendela dan menara jam universitas yang sembilan lantai tingginya. Tujuh ratus lebih luka-luka.

Rangkaian protes ini tak bisa dipisahkan dari protes gerakan kiri dalam menghadang ANPO pada tahun 1960. Pelopor protes itu adalah para pelajar radikal dari kelompok Kiri-Baru yang telah memisahkan diri dari Partai Komunis Jepang dan memegang kendali Zengakuren, akronim untuk Zen Nihon Gakusei Jichikai Sō Rengō — Liga Mahasiswa se-Jepang. Ketika itu mereka gagal. Kegagalan itu berbuntut pada timbulnya faksi-faksi dalam Zengakuren, yang mereka sebut sebagai Sekuto (sekte), yang berjalan sendiri-sendiri. Terpecahnya gerakan kiri menjadikan turunnya kapasitas Zengakuren dalam mobilisasi protes.

Gerakan kiri mendapat momentumnya ketika di akhir tahun 1967 televisi nasional menyiarkan berita terbunuhnya seorang aktivis pelajar. Berita duka itu jadi luar biasa, terlebih karena disiarkan dengan warna yang jelas — disiarkan ketika awal merebaknya televisi berwarna. Mereka yang tak sempat ikut protes dalam perjuangan tahun 1960 mulai tergerak. Sekuto memanen banyak anggota. Dan itulah yang memicu terjadinya pendudukan Stasiun Shinjuku pada Oktober 1968.

Oguma Eiji mencatat, ketika Zenkyōtō merebak di kampus-kampus, kelompok Kiri-Baru berusaha menjahit protes-protes skala lokal (kampus) ini dengan gerakan nasional yang memiliki tujuan politik lebih tinggi; menentang pembaruan Perjanjian Keamanan Bersama Jepang-AS (ANPO), kontra pada kebijakan Jepang untuk membantu logistik Amerika di Perang Vietnam, penggulingan pemerintahan konservatif Jepang, dan tentu saja, membangun revolusi Marxis.

Shinjuku, Juli 1969

Tapi gerakan selalu punya pasang-surut. Setelah protes-protes, pendudukan, dan penyegelan kampus berhasil dipukul balik dan ribuan aktivis ditangkap, pemerintahan Jepang pada tahun 1969 membikin peraturan baru yang membatasi gerak mahasiswa — semacam normalisasi kampus — yang memberikan otoritas bagi kepolisian untuk turut campur dalam urusan kampus. Pada medio 1970, gerakan pelajar sudah hampir tak terdengar lagi. Mayoritas pelajar kembali menjadi apolitis.

Young Power 3 from Tokyo, Shinjuku — Tomatsu Shomei, 1969

Melati di Medan Laga

FUSAKO SHIGENOBU berusia 20 tahun ketika ia mempelajari sejarah dan ekonomi politik di Universitas Meiji tahun 1965. Di kurun ‘60-an itu, ia terlibat aktif dalam protes-protes besar yang terjadi bersama kelompok kiri.

Fusako lahir beberapa minggu setelah bom jatuh di Hiroshima dan Nagasaki di tengah keluarga yang sedang setengah mampus memperjuangkan ekonomi. Ayahnya anggota dari organisasi sayap kanan Ketsumeidan. Dalam kemiskinan itu, ia harus memburuh di perusahaan kecap asin untuk bisa kuliah. Dan sebab kemiskinan itulah, ia memilih hidup dan berjuang dalam Merah.

Ketika represi dari aparat kepolisian makin kuat dan canggih di tahun 1970 dan gerakan pelajar mulai melemah, ia bersama yang lain dari kelompok Kiri-Baru yang radikal justru membentuk Faksi Tentara Merah (Red Army Faction) di Jogashima. Mereka gencar mempropagandakan pentingnya perjuangan bersenjata untuk melawan aparat yang kian represif. Di Tokyo, Fusako Shigenobu jadi pentolannya.

Fusako tentu bersepakat dengan Lenin. Ketika gerakan revolusioner dihadapkan pada kekuasaan yang makin represif, dalam Pelajaran dari Pemberontakan Moskow, Lenin menulis, “Sebaliknya, kita harus mempersenjatai diri lebih kuat, energik dan agresif; kita harus menjelaskan kepada massa bahwa mustahil membatasinya sekedar menjadi pemogokan damai, dan pertempuran bersenjata yang tanpa takut dan pantang menyerah harus dilancarkan. Dan kini kita harus akui secara terbuka dan mempublikasikan bahwa pemogokan politik saja tidak cukup; kita harus melancarkan agitasi seluas mungkin pada massa dalam kerangka perlunya pemberontakan bersenjata dan tidak mengaburkan masalah ini dengan pembicaraan soal ‘tahap-tahap awal’ atau menutup-nutupinya dengan berbagai cara. Kita sudah mengkhianati diri sendiri maupun rakyat jika kita menjauhkan massa dari pentingnya mengambil tindakan, perang berdarah yang habis-habisan, sebagai tugas mendesak dari aksi revolusioner mendatang.”

Pada 28 Februari 1971, Fusako Shigenobu bersama suaminya, Tsuyoshi Okuidara, berangkat ke Beirut dan membangun kontak dengan PFLP. Setelah kontak itu, Tentara Merah Jepang terbentuk di Lebanon. Fusako Shigenobu yang mengemban tugas dari Faksi Tentara Merah untuk mengkampanyekan perjuangan bersenjata internasional menjadi pemimpin dari Tentara Merah Jepang. Kelompok revolusioner bersenjata ini telah hadir di Timur-Tengah jauh sebelum kehadiran Taliban, Hamas, Hizbullah, Alqaeda, atau bahkan ISIS.

Ia berangkat dengan keyakinan bulat: Perjuangan bersenjata mesti meledak di mana-mana di seluruh dunia. Musuh — pemerintahan imperialis — menggunakan senjata dengan terorganisir. Perlawanan atasnya juga mesti sama, bahkan lebih rapi dan disiplin. Jalan paling manusiawi untuk memperjuangkan kepentingan kaum tertindas adalah lewat perjuangan bersenjata. Dan bagi Fusako, episentrum perjuangan itu ada di Timur-Tengah.

Fusako Shigenobu bekerja di kantor pers Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina. Di sana ia bertemu dengan Masao Adachi dan Koji Wakamatsu, pembuat film yang baru tiba dari Cannes, dan bersepakat untuk membuat film tentang perjuangan pembebasan Palestina. Film bertajuk Tentara Merah/PFLP: Deklarasi Perang Dunia itu dibikin di kamp-kamp pelatihan gerilyawan, di Bukit Bekaa, di Beirut, di Lebanon, juga wawancara dengan pimpinan-pimpinan PFLP, termasuk Leila Khaleed, dan juga wacana teoritik dari Fusako sendiri. “Bentuk terbaik dari propaganda adalah perjuangan bersenjata,” kalimat dan suara itu terus-menerus hadir di sepanjang film. Dalam jurnalnya, Adachi menulis, “Dan bukankah aku punya resiko tumbang ketika aku mengabaikan batas fisik dan meneruskan dokumentasi film. Dengan Kalashnikov di tangan, dan menjalani pelatihan bawah tanah.”

Sementara itu, di Gunung Haruna, Jepang, 14 kombatan Serikat Tentara Merah (Rengo Sekigun) dihajar dan dibunuh sampai mati oleh kameradnya sendiri ketika berlatih. Yang terjadi adalah bagian dari mekanisme kritik-otokritik. Beberapa anggota dianggap tak cukup militan untuk kebutuhan revolusi. Mereka ditelanjangi, diikat di pohon dan ditinggalkan. Polisi menyerbu mereka. Delapan orang anggota Rengo Sekigun ditangkap, dan lima orang yang tersisa lari ke penginapan Asama-Sansō di kaki Gunung Asama. Mereka diserbu selama 10 hari oleh kepolisian. Dua polisi dan satu orang sipil tewas. Terbunuhnya sipil dalam penyerbuan, juga temuan mayat-mayat di Gunung Haruna, terus menerus disiarkan di teve. Foto orang yang mereka sandera ditayangkan melulu. Teve nasional menyiarkan penyerbuan terakhir kepolisian selama 10 jam. Publik kehilangan simpati dan mengecam tindakan itu. Dan saat itulah di Jepang, “yang Kiri” kian mendekati tamat.

Setahun setelah serangan di Bandara Lod Tel-Aviv, Fusako Shigenobu menyampaikan dalam wawancara koran minggu Jepang, Manaichi, bahwa tindakan itu dilakukan untuk membayar kesalahan yang terjadi di Gunung Haruna, juga untuk “menunjukkan pada dunia apa arti arti sebenarnya dari kematian bagi seorang revolusioner.”

Suaminya telah menjadi martir perjuangan itu.

“Akan sangat keliru ketika kau membunuh tapi sendirinya berusaha menghindar dari maut. Dan pakem inilah yang jadi penggerak serangan para pejuang di Lod. Mereka telah memilih laga paling sulit,” kata Fusako.

“Massa harus tahu bahwa mereka sedang memasuki perjuangan bersenjata, berdarah dan habis-habisan. Kesediaan untuk mati harus menjadi sikap di kalangan mereka dan inilah yang akan menjamin kemenangan. Serangan terhadap musuh harus dilakukan dengan kekuatan penuh; menyerang, bukan bertahan, harus menjadi slogan massa; pembasmian musuh-musuh rakyat menjadi tugas pokok mereka; serdadu pembelot akan didorong ke dalam partisipan aktif.” — Lenin

Di tengah gurun dan kondisi keras di Timur-Tengah pada bulan Maret 1973 Fusako Shigenobu melahirkan. Dinamainya anak itu Mei Shigenobu. Ia lahir dari rahim ibunya setelah menjalin hubungan dengan seorang Palestina tak bernama. Nama Mei, diambil dari kata kakumei yang berarti revolusi. Mei sendiri punya arti “hidup”. Selain Mei, Fusako Shigenobu juga mengadopsi dua anak lain. Ketika ketiga nama depan anak-anaknya digabungkan, akan tersusun kalimat dalam Jepang yang berarti “kemenangan revolusi”. Pengalamannya melahirkan dan membesarkan Mei di medan laga itu diabadikannya dalam buku bertajuk Kupilih untuk Melahirkanmu di Bawah Pohon Apel.

Dan untuk Mei, Fusako menuliskan puisi:

Kebenaran terbesar adalah
tak berbakti, dan anggota keluarga
dihukum atasnya, jangan pernah
lupa bahwa inilah
fungsi revolusioner dari takdir

Oleh pemerintahan Jepang, Fusako Shigenobu ditetapkan sebagai musuh publik nomor satu. Ia punya beberapa julukan. Salah satunya adalah Mata Hari, seperti Margareth McLeod. Juga “Ratu Teror Merah”. Selain dianggap terlibat di serangan Bandara Lod, ia juga dipercaya ikut mengorkestrasi penyanderaan pegawai kedutaan Prancis di Den Haag tahun 1974, serangan pada kantor Konsulat Amerika di Kuala Lumpur tahun 1975, pembajakan pesawat Japan Airlines di India tahun 1977. Juga, serangan mortir Tentara Merah Jepang tahun 1986 pada kedutaan Jepang, Kanada dan AS di Jakarta, serta pemboman sebuah klub Amerika di Napoli pada tahun 1988.

29 TAHUN SETELAH Fusako Shigenobu meninggalkan tanah kelahirannya, di bulan November tahun 2000 yang menggigil, seorang penduduk Osaka melaporkan pada polisi bahwa ia melihat seorang yang mirip dengan musuh publik nomor satu — Sang Ratu Teror — itu menyewa apartemen di depannya. Polisi ragu-ragu. Tapi mereka mengawasi apartemen itu. Lalu dari tumpukan sampah, mereka temukan sidik jari sang ratu. Pada tahun 2006 ia divonis penjara selama 20 tahun.

“Kembali ke Jepang menjadi tujuan penting buatku. Di sini aku ingin mendapatkan kondisi yang dibutuhkan guna mengejar perjuangan di negaraku sendiri. Aku ingin bertempur sebagai yang baru, tanpa senjata, dengan loyalitas, dan di bawah namaku sendiri. Itulah satu-satunya poin dari kepulanganku. Tapi kesempatan itu tak muncul sebab aku ditangkap terlalu dini daripada yang kuperkirakan,” kata Fusoka.

Setelah vonis itu, ia juga menitipkan sebuah haiku pada pengacaranya, dalam terjemahan tak tertib silabel:

Putusan bukanlah akhir
Itu hanyalah awal
Kuat terus menyebar

Perjuangannya tak berhenti. Ia melahirkan sekumpulan puisi dalam buku berjudul Melati di Moncong Senapan (2005). Judul yang dipilihnya barangkali memang pas. Fusako tak menggunakan nama gahar semisal Ratu Teror, Ratu Merah, dsb. Tapi ia pilih melati. Dan melati itu berwarna Merah.

Fusako Shigenobu, Melati di Moncong Senapan (2005)

Puisinya yang kutemukan berserakan di Internet

Menyebrangi sungai Arakawa
Sayup suara kereta
Menghubungkanku dengan massa rakyat

Palestina,
Tanah air ajaib kita runtuh!
Langit begitu jauh di atas
Kota Jenin!
“Jatuh dengan XX”
Di hari-hari menyentak macam itu
Negeri ini
Masih punya momentum
Masih punya harap
Tubuh ini seperti kulit jangkrik
Di luar penjara tunggal ini mengalir dunia
Yang kudengar dengan sabar
Jika kau berdiri di antara runtuhan perang
Dalam senja yang tak ada apa pun selain angin, di sana kan menyelinap
Bau melati
Jika kau turun
di stasiun Ochanomizu
kan kau temukan bau samar Narcissus seperti
Barikade Februari

Tak takut lagi ketinggalan

Daftarkan email Anda untuk berlangganan nawala.
[email protected]
Langganan