Kebohongan tentang sejarah Soviet

Sejarah jutaan orang yang diduga dipenjara dan tewas di kamp-kamp kerja paksa akibat dari kelaparan selama masa Stalin Untuk itu, saya terjemahkan salah satu tulisan Mario Sousa yang berusaha memblejeti kebohongan dan menjawab tuduhan yang dilayangkan reaksioner terhadap Uni Soviet di masa Stalin.

Kebohongan tentang sejarah Soviet

Sousa, Soviet, Stalin, Gulag dan Holodomor

Saya sedikit masygul ketika beberapa minggu lalu ada kawan di gerakan yang mempercayai dan bahkan turut menyebar propaganda kanan, kepalsuan, dan kebohongan-kebohongan jahat untuk mendemonisasi Uni Soviet dalam perjuangannya membangun masyarakat sosialis.

Waktu itu kami sedang berdiskusi ringan soal Stalin dan Uni Soviet, ada kawan yang membawa masalah Holodomor ke dalam diskusi. “Stalin menyiksa rakyatnya sendiri di Ukraina, petani-petani dibikin kelaparan,” katanya. Di lain waktu, seorang kawan yang lain, seorang yang saya tahu giat mempelajari Musso, juga ikut melakukan demonisasi pada Uni Soviet (dan Stalin) dengan bahan dari film yang baru ditontonnya. Film tentang Ukraina di masa kolektivisasi tanah yang berjudul Bitter Harvest yang tak lebih dari sekadar propaganda fasis untuk menyerang sosialisme (dan lagi-lagi jadi sasaran, Stalin). “Anggota Partai Kom Ukraina dibunuhi,” katanya, bersumber dari adegan dari film.

Tapi tak pernah ditemukan bukti bahwa mereka dieksekusi — sekalipun arsip-arsip Uni Soviet telah dibuka. Dipecat karena kesalahan mereka dalam manajemen kolektivisasi sih, iya.

Selain kebohongan soal Gulag, puluhan juta rakyat yang seharusnya mati karena kelaparan di Ukraina (yang disebut Holodomor) ini menjadi senjata andalan kelompok kanan untuk menyerang kemajuan Uni Soviet (di masa Stalin) dalam perjuangannya membangun masyarakat sosialis.

Sah-sah saja jika ingin meragukan atau mengkritik Soviet dan/atau Stalin. Tapi tentunya tidak menggunakan propaganda Nazi sebagai bahan. Pakai fakta, bukan mitos.

Untuk itu, saya terjemahkan salah satu tulisan Mario Sousa yang berusaha memblejeti kebohongan dan menjawab tuduhan yang dilayangkan reaksioner terhadap Uni Soviet di masa Stalin.

Salam!


Kebohongan tentang sejarah Soviet

diterjemahkan dari mariosousa.se

Dari Hitler hingga Hearst, dari Conquest hingga Solzhenitsyn

Sejarah jutaan orang yang diduga dipenjara dan tewas di kamp-kamp kerja paksa dan akibat dari kelaparan selama masa Stalin

Di dunia tempat kita hidup ini, siapa yang dapat menghindar ketika mendengar kisah-kisah mengerikan tentang kematian dan pembunuhan di kamp kerja paksa Gulag di Uni Soviet? Siapa yang bisa menghindari mendengar cerita soal jutaan orang yang kelaparan sampai mati dan jutaan kaum oposisi dieksekusi di Uni Soviet selama masa Stalin? Di dunia kapitalis ini, kisah-kisah diulang-ulang di buku-buku, surat kabar, radio, acara televisi dan film-film, juga mitos tentang sosialisme yang menyebabkan jutaan korban telah meningkat pesat dalam 50 tahun terakhir.

Tapi dari mana sebenarnya cerita-cerita ini, dan angka-angka ini, berasal? Siapa di balik semua ini?

Dan pertanyaan lain: kebenaran apa yang ada di balik cerita ini? Dan informasi apa yang ada di arsip-arsip Uni Soviet, yang dulu dirahasiakan, tapi kini telah dibuka untuk penelitian sejarah oleh Gorbachev pada tahun 1989? Para penulis mitos selalu mengatakan bahwa semua cerita mereka tentang jutaan orang yang tewas di Uni Soviet zaman Stalin akan dikonfirmasi pada hari ketika arsip-arsip tersebut dibuka. Begitukah yang terjadi? Apakah mereka membenarkannya?

Artikel berikut ini akan menunjukkan pada kita dari mana kisah jutaan kematian karena kelaparan dan kamp kerja paksa ini berasal, dan siapa yang berada di balik itu semua.

Penulis saat ini, setelah mempelajari laporan penelitian terhadap arsip-arsip Uni Soviet, mampu memberikan informasi berupa data konkret tentang jumlah tahanan yang sebenarnya, tahun-tahun yang mereka habiskan di penjara dan jumlah sebenarnya dari mereka yang mati dan yang dihukum mati di Uni Soviet zaman Stalin. Kebenarannya sangat berbeda dengan mitos-mitos yang ada.

Penulis adalah Mario Sousa, anggota Partai Komunis Swedia, KPML (r). Artikel ini dipublikasikan di surat kabar Comunist Partys Proletären pada bulan April 1998.

Ada tautan sejarah langsung yang berjalan dari: Hitler hingga Hearst, Conquest, dan Solzhenitsyn. Pada tahun 1933, perubahan politik telah terjadi di Jerman, dan meninggalkan jejak pada sejarah dunia selama beberapa dekade yang akan datang. Pada tanggal 30 Januari, Hitler menjadi perdana menteri, dan bentuk pemerintahan baru yang melibatkan kekerasan dan pengabaian undang-undang, mulai terbentuk. Untuk mengkonsolidasikan cengkeraman mereka pada kekuasaan, Nazi mengadakan pemilihan baru pada tanggal 5 Maret, dengan menggunakan semua sarana propaganda yang ada dalam usaha mereka untuk meraih kemenangan. Seminggu sebelum pemilihan, pada tanggal 27 Februari, Nazi membakar parlemen dan menuduh komunis sebagai pihak yang bertanggung jawab atas hal itu. Dalam pemilihan, Nazi mengamankan 17,3 juta suara dan 288 deputi, sekitar 47% pemilih (pada November mereka telah mendapatkan 11,7 juta suara dan 196 deputi). Begitu Partai Komunis dilarang, Nazi mulai menganiaya kaum Sosial-Demokrat dan gerakan serikat pekerja, dan kamp konsentrasi pertama mulai dipenuhi oleh semua pria dan wanita sayap kiri. Sementara itu, kekuasaan Hitler di parlemen terus berkembang, dengan bantuan dari sayap kanan. Pada tanggal 24 Maret, Hitler membuat sebuah undang-undang yang menganugerahkan kepadanya kekuasaan mutlak untuk memerintah negara selama 4 tahun, disahkan oleh parlemen. Sejak saat itu mulailah penganiayaan terbuka terhadap orang-orang Yahudi, yang mulai memasuki kamp-kamp konsentrasi tempat komunis dan kaum Sosial-Demokrat sebelumnya lebih dulu ditahan. Hitler terus maju dengan tawarannya untuk mendapatkan kekuasaan absolut, melepaskan kesepakatan internasional tahun 1918 yang telah memberlakukan pembatasan dalam hal persenjataan dan militerisasi Jerman. Persenjataan kembali ini berlangsung sangat cepat. Inilah situasi di arena politik internasional ketika mulai berkumpulnya mitos-mitos tentang orang-orang yang sekarat di Uni Soviet.

Ukraina sebagai Teritori Jerman

Dalam kepemimpinan Jerman yang ada di pihak Hitler adalah Goebbels, Menteri Propaganda, orang yang bertanggung jawab untuk menanamkan mimpi Nazi ke rakyat Jerman. Ini adalah mimpi orang ras murni yang tinggal di Jerman Raya, sebuah negara dengan lebensraum yang luas, ruang yang luas untuk tinggal. Salah satu bagian dari lebensraum ini, sebuah wilayah di sebelah timur Jerman yang memang jauh lebih besar daripada Jerman itu sendiri, belum dapat ditaklukkan dan dimasukkan ke dalam negara Jerman. Pada tahun 1925, di Mein Kampf, Hitler telah menunjuk Ukraina sebagai bagian penting dari ruang Jerman ini. Ukraina dan wilayah lain di Eropa Timur perlu menjadi milik negara Jerman sehingga bisa dimanfaatkan dengan cara yang ‘tepat’. Menurut propaganda Nazi, pedang Nazi akan membebaskan wilayah ini untuk memberi ruang bagi ras Jerman. Dengan teknologi Jerman dan perusahaan Jerman, Ukraina akan ditransformasikan menjadi daerah penghasil sereal untuk Jerman. Tapi pertama-tama, Jerman harus membebaskan Ukraina dari populasi ‘makhluk inferior’ yang, menurut propaganda Nazi, akan bekerja sebagai budak di rumah-rumah Jerman, pabrik dan ladang — di mana saja mereka dibutuhkan oleh ekonomi Jerman.

Penaklukan Ukraina dan wilayah-wilayah lain di Uni Soviet akan memerlukan perang melawan Uni Soviet, dan perang ini mesti dipersiapkan dengan baik terlebih dulu. Untuk tujuan ini, kementerian propaganda Nazi yang dipimpin oleh Goebbels memulai sebuah kampanye seputar genosida yang dilakukan oleh kaum Bolshevik di Ukraina, bencana mengerikan yang sengaja dipicu oleh Stalin untuk memaksa kaum tani agar menerima kebijakan sosialis. Tujuan kampanye Nazi adalah untuk mempersiapkan opini publik dunia untuk ‘pembebasan’ Ukraina oleh pasukan Jerman. Kendati ada banyak usaha dan terlepas dari fakta bahwa beberapa teks propaganda Jerman dipublikasikan di media Inggris, kampanye Nazi seputar ‘genosida’ yang semestinya terjadi di Ukraina ini tidak begitu berhasil di tingkat internasional. Sudah jelas bahwa Hitler dan Goebbels membutuhkan bantuan dalam menyebarkan desas-desus fitnah mereka tentang Uni Soviet. Bantuan yang kemudian mereka temukan di Amerika Serikat.

William Hearst, Kawan Hitler

William Randolph Hearst adalah nama seorang multi-jutawan yang berusaha membantu Nazi dalam perang psikologis mereka melawan Uni Soviet. Hearst adalah pemilik surat kabar terkenal Amerika Serikat yang dikenal sebagai ‘ayah’ dari apa yang disebut ‘pers kuning’, yaitu pers sensasional. William Hearst memulai karirnya sebagai redaktur surat kabar pada tahun 1885 ketika ayahnya, George Hearst, seorang milyuner industrialis pertambangan, Senator dan pemilik surat kabar, menempatkannya untuk bertanggung jawab atas San Fransisco Daily Examiner.

William Randolph Hearst

Ini juga merupakan awal dari kerajaan koran Hearst, sebuah kerajaan yang sangat mempengaruhi kehidupan dan pemikiran orang-orang Amerika Utara. Setelah ayahnya meninggal, William Hearst menjual semua saham industri pertambangan yang ia warisi dan mulai menginvestasikan modal di dunia jurnalisme. Pembelian pertamanya adalah New York Morning Journal, surat kabar tradisional yang benar-benar ditransformasikan Hearst menjadi koran sensasional. Dia membeli cerita dengan harga berapa pun, dan bila tidak ada kekejaman atau kejahatan yang harus dilaporkan, maka wartawan dan fotografernya harus “mengatur” masalah. Inilah yang sebenarnya mencirikan ‘pers kuning’: kebohongan dan ‘pengaturan’ kekejaman yang disajikan sebagai kebenaran.

Kebohongan Hearst ini membuatnya menjadi jutawan dan tokoh penting di dunia surat kabar. Pada tahun 1935 dia adalah salah satu orang terkaya di dunia, dengan kekayaan diperkirakan mencapai $200 juta. Setelah membeli Morning Journal, Hearst terus membeli dan membuat surat kabar harian dan mingguan di seluruh AS. Pada tahun 1940-an, William Hearst tercatat memiliki 25 surat kabar harian, 24 surat kabar mingguan, 12 stasiun radio, 2 layanan berita dunia, satu bisnis yang menyediakan berita untuk film, perusahaan film Cosmopolitan, dan banyak lainnya. Pada tahun 1948 ia membeli salah satu stasiun TV pertama AS, BWAL — TV di Baltimore. Surat kabar Hearst terjual 13 juta kopi sehari dan mendekati hampir 40 juta pembaca. Hampir sepertiga dari populasi orang dewasa di AS membaca koran Hearst setiap hari. Selanjutnya, jutaan orang di seluruh dunia menerima informasi dari pers Hearst melalui layanan berita, film dan serangkaian surat kabar yang diterjemahkan dan diterbitkan dalam jumlah banyak di seluruh dunia. Angka-angka yang dikutip di atas menunjukkan bagaimana kerajaan Hearst dapat mempengaruhi politik Amerika, dan memang dunia politik, selama bertahun-tahun — pada pelbagai isu termasuk oposisi terhadap AS yang memasuki Perang Dunia II di sisi Uni Soviet dan dukungan untuk “perburuan penyihir” ala McCarthy pada tahun 1950an.

Pandangan William Hearst sangat konservatif, nasionalis dan anti-komunis. Politiknya adalah politik ekstrem kanan. Pada tahun 1934 ia melakukan perjalanan ke Jerman, tempat ia diterima oleh Hitler sebagai tamu sekaligus kawan. Setelah perjalanan ini, surat kabar Hearst menjadi semakin reaksioner, selalu menerbitkan artikel yang menentang sosialisme, melawan Uni Soviet dan terutama melawan Stalin. Hearst juga mencoba menggunakan surat kabarnya untuk tujuan propaganda Nazi yang terang-terangan, menerbitkan serangkaian artikel oleh Goering, tangan kanan Hitler. Protes dari banyak pembaca, bagaimanapun, memaksanya untuk berhenti menerbitkan barang-barang semacam itu dan menariknya dari peredaran.

Setelah kunjungannya ke Hitler, koran sensasionalis Hearst dipenuhi dengan ‘wahyu’ tentang kejadian mengerikan di Uni Soviet — pembunuhan, genosida, perbudakan, kemewahan bagi penguasa dan kelaparan bagi masyarakat, semuanya adalah berita besar dan ada hampir setiap hari. Materi tersebut diberikan kepada Hearst oleh Gestapo, polisi politik Nazi Jerman. Di halaman depan surat kabar di sana sering muncul karikatur dan gambar memalsukan Uni Soviet, dengan Stalin digambarkan sebagai pembunuh yang memegang belati di tangannya. Kita tidak boleh lupa bahwa artikel ini dibaca setiap hari oleh 40 juta orang di AS dan jutaan lainnya di seluruh dunia!

Mitos tentang Kelaparan di Ukraina

Salah satu kampanye pertama pers Hearst melawan Uni Soviet berkisar seputar pertanyaan jutaan orang yang diduga tewas akibat kelaparan di Ukraina. Kampanye ini dimulai pada tanggal 18 Februari 1935 dengan judul utama di Chicago American “6 Juta Orang Tewas karena Kelaparan di Uni Soviet”. Dengan menggunakan bahan yang dipasok oleh Nazi Jerman, William Hearst, baron pers dan simpatisan Nazi, mulai menerbitkan cerita palsu tentang genosida di Ukraina yang dilakukan dengan sengaja oleh kaum Bolshevik dan telah menyebabkan beberapa juta orang tewas karena kelaparan. Kebenaran dari masalah ini sama sekali berbeda. Sebenarnya apa yang terjadi di Uni Soviet pada awal tahun 1930-an merupakan perjuangan kelas utama, di mana petani kecil tanpa lahan telah bangkit melawan tuan tanah kaya, kulak, dan telah memulai sebuah perjuangan untuk kolektivisasi, sebuah perjuangan untuk membentuk kolkhozes.

Perjuangan kelas yang besar ini, yang melibatkan secara langsung atau tidak langsung sekitar 120 juta petani, tentu menimbulkan ketidakstabilan produksi pertanian dan kekurangan pangan di beberapa daerah. Kurangnya makanan memang melemahkan orang, yang pada gilirannya menyebabkan peningkatan jumlah korban jatuh pada penyakit epidemik. Penyakit ini pada saat itu sangat disesalkan di seluruh dunia. Antara tahun 1918 dan 1920, sebuah epidemi flu Spanyol menyebabkan kematian 20 juta orang di AS dan Eropa, namun tidak ada yang menuduh pemerintah negara-negara tersebut membunuh warganya sendiri. Faktanya adalah bahwa tidak ada yang bisa dilakukan pemerintah dalam menghadapi epidemi semacam ini. Dengan perkembangan penisilin selama perang dunia kedua, barulah menjadi mungkin bagi epidemi semacam itu dapat teratasi secara efektif. Penisilin tidak tersedia secara umum sampai menjelang akhir tahun 1940-an.

Artikel pers Hearst yang menyatakan bahwa jutaan orang sekarat karena kelaparan di Ukraina — sebuah kelaparan yang diduga sengaja dibuat oleh komunis — masuk ke detail grafis dan mengerikan. Pers Hearst menggunakan segala cara untuk membuat kebohongan mereka tampak seperti kebenaran, dan berhasil menyebabkan opini publik di negara-negara kapitalis berubah tajam melawan Uni Soviet. Inilah asal usul mitos raksasa pertama yang diproduksi, yang menuduh jutaan orang sekarat di Uni Soviet. Dalam gelombang protes terhadap kelaparan yang disebabkan oleh komunis yang dimunculkan oleh pers Barat, tidak ada yang tertarik untuk mendengarkan penolakan Uni Soviet dan pemaparan lengkap atas kebohongan yang dibuat oleh media Hearst, sebuah situasi yang berlangsung dari tahun 1934 sampai 1987! Selama lebih dari 50 tahun beberapa generasi orang di seluruh dunia dibesarkan dan memakan fitnah ini untuk merawat pandangan negatif tentang sosialisme di Uni Soviet.

Kerajaan Media Hearst Tahun 1998

William Hearst meninggal pada tahun 1951 di rumahnya di Beverley Hills, California. Hearst meninggalkan sebuah kerajaan media massa yang sampai hari ini terus menyebarkan pesan reaksionernya ke seluruh dunia. Hearst Corporation adalah salah satu perusahaan terbesar di dunia, terdiri dari lebih dari 100 perusahaan dan mempekerjakan 15.000 orang. Kekaisaran Hearst hari ini terdiri dari surat kabar, majalah, buku, radio, TV, TV kabel, kantor berita dan perusahaan multimedia.

52 Tahun Sebelum Munculnya Kebenaran

Kampanye disinformasi Nazi tentang Ukraina tidak mati dengan kekalahan Nazi Jerman dalam Perang Dunia II. Kebohongan Nazi diambil alih oleh CIA dan MI5, dan selalu dijamin untuk mendapatkan tempat yang menonjol dalam perang propaganda melawan Uni Soviet. Perburuan penyihir komunis ala McCarthy setelah Perang Dunia II juga berkembang dalam kisah jutaan orang yang tewas karena kelaparan di Ukraina. Pada tahun 1953 sebuah buku tentang masalah ini diterbitkan di AS. Buku ini berjudul ‘Black Deeds of the Kremlin’. Publikasinya dibiayai oleh pengungsi Ukraina di AS, orang-orang yang telah berkolaborasi dengan Nazi dalam Perang Dunia II dan telah diberi suaka politik oleh pemerintah Amerika, pemerintah yang menyajikan mereka pada dunia sebagai ‘kaum demokrat’.

Ketika Reagan terpilih menjadi Presiden AS dan memulai perang anti-komunis tahun 1980-an, propaganda tentang jutaan orang yang tewas di Ukraina kembali dihidupkan. Pada tahun 1984 seorang profesor Harvard menerbitkan sebuah buku berjudul ‘Human Life in Russia’ yang mengulangi semua informasi palsu yang dihasilkan oleh pers Hearst pada tahun 1934. Pada tahun 1984, kemudian, kami menemukan kebohongan dan pemalsuan Nazi yang berasal dari tahun 1930an dihidupkan kembali, namun kali ini di bawah jubah ‘terhormat’ dari universitas Amerika. Tapi itu juga bukan yang terakhir. Pada tahun 1986, ada buku lain yang berjudul ‘Harvest of Sorrow’, yang ditulis oleh mantan anggota dinas rahasia Inggris, Robert Conquest, sekarang seorang profesor di Stamford University di California. Untuk ‘pekerjaannya’ atas buku tersebut, Conquest menerima $80.000 dari Organisasi Nasional Ukraina. Organisasi yang sama juga membayar sebuah film yang dibuat pada tahun 1986 yang disebut ‘Harvest of Despair’, di mana, antara lain, materi dari buku Conquest digunakan sebagai acuan. Pada saat ini di AS, jumlah orang yang dituduhkan telah kehilangan nyawa mereka di Ukraina karena kelaparan telah meningkat menjadi 15 juta!

Namun demikian jutaan orang yang dikatakan telah tewas karena kelaparan di Ukraina menurut pers Hearst di Amerika, juga yang termasuk dalam buku dan film, benar-benar informasi palsu. Seorang wartawan Kanada, Douglas Tottle, dengan cermat mengekspos pemalsuan itu dalam bukunya ‘Penipuan, kelaparan dan fasisme — mitos genosida Ukraina dari Hitler ke Harvard’, yang diterbitkan di Toronto pada tahun 1987. Antara lain, Tottle membuktikan bahwa bahan fotografi yang digunakan, foto mengerikan atas anak-anak yang kelaparan, telah diambil dari publikasi tahun 1922, pada saat jutaan orang tewas karena kelaparan dan kondisi perang karena delapan tentara asing telah menyerang Uni Soviet selama Perang Sipil 1918–1921. Douglas Tottle memberikan fakta seputar pelaporan kelaparan tahun 1934 dan mengungkapkan berbagai macam kebohongan yang diterbitkan di pers Hearst. Seorang wartawan yang selama jangka waktu yang lama telah mengirim laporan dan foto dari yang mestinya merupakan daerah terdampak kelaparan adalah Thomas Walter, seorang pria yang tidak pernah menginjakkan kaki di Ukraina atau bahkan di Moskow kecuali selama lima hari yang kosong. Fakta ini diungkapkan oleh wartawan Louis Fisher, Koresponden Moskow dari The Nation, sebuah surat kabar Amerika. Fisher juga mengungkapkan bahwa wartawan M Parrott, koresponden pers Hearst di Moskow, telah mengirim laporan yang tidak pernah dipublikasikan oleh Hearst mengenai hasil panen yang luar biasa yang dicapai oleh Uni Soviet pada tahun 1933 dan pada kemajuan Ukraina. Tottle membuktikan juga bahwa wartawan yang menulis laporan tentang kelaparan di Ukraina, ‘Thomas Walker’, sebetulnya bernama Robert Green dan ia merupakan seorang terpidana yang telah melarikan diri dari sebuah penjara negara bagian di Colorado! Walker ini, atau Green, ditangkap saat kembali ke AS dan saat dia tampil di pengadilan, dia mengakui bahwa dia belum pernah ke Ukraina. Semua kebohongan tentang jutaan korban kelaparan di Ukraina pada tahun 1930-an, kelaparan yang direkayasa oleh Stalin, yang akhirnya bisa dikuak di tahun 1987! Hearst, Nazi, agen polisi Conquest dan yang lainnya telah menipu jutaan orang dengan kebohongan dan laporan palsu mereka. Bahkan saat ini cerita Nazi Hearst masih diulang dalam buku yang baru diterbitkan yang ditulis oleh penulis untuk kepentingan sayap kanan.

Pers Hearst, yang memiliki posisi monopoli di banyak negara di AS, dan memiliki kantor berita di seluruh dunia, adalah corong megafon besar untuk Gestapo. Di dunia yang didominasi oleh monopoli modal, adalah mungkin bagi pers Hearst untuk mengubah kebohongan Gestapo menjadi ‘kebenaran’ yang dipancarkan ke seluruh penjuru dunia lewat puluhan surat kabar, stasiun radio dan, kemudian, saluran TV. Ketika Gestapo menghilang, perang propaganda kotor melawan sosialisme di Uni Soviet terus berlanjut, terlepas dari CIA sebagai pelindung barunya. Kampanye anti-komunis pers Amerika tidak diperkecil sedikit pun. Bisnis berlanjut seperti biasa, pertama atas tawaran Gestapo dan kemudian atas tawaran CIA.

Robert Conquest di Jantung Mitos

Orang ini, yang begitu banyak dikutip dalam pers borjuis, nubuat bagi kaum borjuis ini, patut mendapat perhatian khusus. Robert Conquest adalah salah satu dari dua penulis yang paling banyak menulis tentang jutaan orang yang harusnya tewas di Uni Soviet. Sebenarnya dialah pencipta semua mitos dan kebohongan mengenai Uni Soviet yang telah menyebar sejak Perang Dunia II. Conquest terutama dikenal karena bukunya The Great Terror (1969) dan Harvest of Sorrow (1986). Conquest menulis tentang jutaan orang yang sekarat karena kelaparan di Ukraina, di kamp kerja Gulag dan selama Pengadilan 1936–38, menggunakan seorang dari Ukraina yang diasingkan dan tinggal di AS serta masuk sebagai informan di partai kanan, orang-orang yang telah berkolaborasi dengan Nazi dalam Perang Dunia II. Banyak pahlawan [di buku] Conquest dikenal sebagai penjahat perang yang memimpin dan berpartisipasi dalam genosida populasi Yahudi Ukraina pada tahun 1942. Salah satu dari orang-orang ini adalah Mykola Lebed, yang dihukum sebagai penjahat perang setelah Perang Dunia II. Lebed adalah kepala keamanan di Lvov selama pendudukan Nazi dan memimpin penganiayaan orang-orang Yahudi yang mengerikan yang terjadi pada tahun 1942. Pada tahun 1949 CIA membawa Lebed ke Amerika Serikat tempat dia bekerja sebagai sumber disinformasi.

Robert Conquest

Gaya yang dipakai Conquest dalam bukunya adalah salah satu jenis dari anti-komunisme yang kejam dan fanatik. Dalam bukunya tahun 1969, Conquest mengatakan kepada kita bahwa mereka yang tewas karena kelaparan di Uni Soviet antara tahun 1932–1933 berjumlah antara 5 juta sampai 6 juta orang, yang setengahnya berada di Ukraina. Namun pada tahun 1983, selama perang anti-komunis Reagan, Conquest telah memperpanjang bencana kelaparan itu sampai tahun 1937 dan meningkatkan jumlah korban menjadi 14 juta! Pernyataan semacam itu ternyata dihargai dengan baik: pada tahun 1986 dia dipekerjakan oleh Reagan untuk menulis materi untuk kampanye kepresidenannya yang bertujuan mempersiapkan orang-orang Amerika atas invasi Soviet, dan teks yang dimaksud disebut ‘Apa yang harus dilakukan ketika orang-orang Rusia datang — Buku pegangan orang yang selamat ‘! Kata-kata aneh yang berasal dari seorang Profesor Sejarah!

Faktanya adalah, bahwa tak ada yang aneh di dalamnya, mengingat hal itu keluar dari mulut seorang pria yang telah hidup dan menghabiskan seluruh hidupnya dengan kebohongan dan rekayasa tentang Uni Soviet dan Stalin — yang pertama sebagai agen rahasia, dan kemudian sebagai penulis dan Profesor di Stanford University di California. Masa lalu Conquest telah diungkapkan oleh Guardian pada tanggal 27 Januari 1978 dalam sebuah artikel yang mengidentifikasi dia sebagai mantan agen di departemen disinformasi dari British Secret Service, yaitu Departemen Riset Informasi (IRD). IRD adalah bagian yang dibuat pada tahun 1947 (awalnya disebut Biro Informasi Komunis) yang tugas utamanya adalah untuk memerangi pengaruh komunis di seluruh dunia dengan menanam cerita di kalangan politisi, jurnalis dan lain-lain dalam posisi untuk mempengaruhi opini publik. Aktivitas IRD sangat luas, di Inggris, di luar negeri. Ketika IRD harus dibubarkan secara resmi pada tahun 1977, sebagai hasil dari pemaparan keterlibatannya dengan politik kanan, ditemukan bahwa di Inggris saja lebih dari 100 wartawan terkenal memiliki kontak IRD yang secara teratur memasok mereka dengan bahan untuk artikel-artikel. Ini rutin terjadi di beberapa surat kabar besar Inggris, seperti Financial Times, The Times, Economist, Daily Mail, Daily Mirror, The Express, The Guardian dan lain-lain. Fakta yang dipaparkan oleh Guardian memberi kita indikasi bagaimana dinas rahasia mampu memanipulasi berita yang sampai ke masyarakat luas.

Robert Conquest bekerja untuk IRD sejak lembaga itu didirikan sampai tahun 1956. ‘Pekerjaan’ Conquest ada untuk berkontribusi pada apa yang disebut ‘sejarah hitam’ dari cerita palsu tentang Uni Soviet yang dikeluarkan sebagai fakta dan didistribusikan di antara para jurnalis dan yang lainnya dan dapat mempengaruhi opini publik. Setelah secara resmi meninggalkan IRD, Conquest lanjut menulis buku yang disarankan oleh IRD, dengan dukungan layanan rahasia. Bukunya ‘The Great Terror’, sebuah teks sayap kanan dasar mengenai pertarungan kekuasaan yang terjadi di Uni Soviet pada tahun 1937, sebenarnya merupakan kompilasi teks yang dia tulis saat bekerja untuk dinas rahasia. Buku itu telah selesai dan diterbitkan dengan bantuan IRD. Sepertiga dari publikasi tersebut dibeli oleh pers Praeger, biasanya terkait dengan publikasi literatur yang berasal dari sumber CIA. Buku Conquest ditujukan untuk presentasi kepada ‘orang bodoh yang berguna’, seperti profesor universitas dan orang-orang yang bekerja di media, radio dan TV, untuk memastikan bahwa kebohongan Conquest dan ekstrem kanan dapat terus menyebar ke seluruh wilayah berpopulasi besar. Conquest hingga hari ini tetap sebagai salah satu sumber terpenting tentang Uni Soviet bagi sejarawan sayap kanan.

Alexander Solzhenitsyn

Orang lain yang selalu dikaitkan dengan buku dan artikel tentang jutaan orang yang kehilangan nyawa atau kebebasan di Uni Soviet adalah penulis Rusia Alexander Solzhenitsyn. Solzhenitsyn menjadi terkenal di seluruh dunia kapitalis menjelang akhir tahun 1960 lewat bukunya, The Gulag Archipelago. Dia sendiri telah dijatuhi hukuman pada tahun 1946 sampai 8 tahun di sebuah kamp kerja paksa untuk kegiatan kontra-revolusioner dalam bentuk distribusi propaganda anti-Soviet. Menurut Solzhenitsyn, perang melawan Nazi Jerman dalam Perang Dunia II bisa saja dihindari jika pemerintah Soviet telah mencapai kompromi dengan Hitler. Solzhenitsyn juga menuduh pemerintah Soviet dan Stalin bahkan lebih buruk dari Hitler dari sudut pandang, menurut dia, tentang dampak mengerikan perang terhadap rakyat Uni Soviet. Solzhenitsyn tidak menyembunyikan simpati Nazi-nya. Dia dihukum sebagai pengkhianat.

Solzhenitsyn in Germany in 1974. Credit Agence France-Presse — Getty Images

Solzhenitsyn dimulai pada tahun 1962 untuk menerbitkan buku-buku di Uni Soviet dengan persetujuan dan bantuan dari Nikita Khrushchev. Buku pertama yang diterbitkannya adalah A Day in the Life of Ivan Denisovich, yang bercerita tentang kehidupan seorang tahanan. Khrushchev menggunakan teks Solzhenitsyn untuk memberantas warisan sosialis Stalin. Pada tahun 1970 Solzhenitsyn memenangkan Hadiah Nobel Sastra dengan bukunya The Gulag Archipelago. Buku-bukunya kemudian mulai diterbitkan dalam jumlah besar di negara-negara kapitalis, dan penulisnya telah menjadi salah satu instrumen imperialisme paling berharga dalam memerangi sosialisme Uni Soviet. Teks-teksnya di kamp kerja paksa ditambahkan pada propaganda tentang jutaan orang yang tewas di Uni Soviet dan dipresentasikan oleh media massa kapitalis seolah hal itu benar. Pada tahun 1974, Solzhenitsyn meninggalkan kewarganegaraan Soviet dan beremigrasi ke Swiss dan kemudian Amerika Serikat. Saat itu dia dianggap oleh pers kapitalis sebagai pejuang terhebat untuk kebebasan dan demokrasi. Simpati Nazi-nya dikuburkan agar tidak mengganggu perang propaganda melawan sosialisme.

Di AS, Solzhenitsyn sering diundang untuk berbicara dalam pertemuan penting. Sebagai contoh, dia adalah pembicara utama kongres AFL-CIO pada tahun 1975, dan pada tanggal 15 Juli 1975 dia diundang untuk memberikan ceramah tentang situasi dunia ke Senat AS! Ceramahnya condong ke arah agitasi yang keras dan provokatif, berdebat, serta mempropagandakan posisi yang paling reaksioner. Antara lain, dia menghasut agar Vietnam diserang lagi setelah kemenangan mereka atas AS. Dan lagi: setelah 40 tahun fasisme di Portugal, ketika perwira militer sayap kiri mengambil alih kekuasaan dalam revolusi rakyat pada tahun 1974, Solzhenitsyn mulai melakukan propaganda untuk mendukung intervensi militer AS di Portugal yang, menurut dia, akan bergabung dalam Pakta Warsawa jika AS tidak melakukan intervensi! Dalam ceramahnya, Solzhenitsyn selalu meratapi pembebasan koloni-koloni Portugal di Afrika.

Tapi jelas bahwa dorongan utama pidato Solzhenitsyn selalu merupakan perang kotor melawan sosialisme — dari dugaan eksekusi beberapa juta orang di Uni Soviet hingga puluhan ribu orang Amerika yang diduga dipenjara dan diperbudak, menurut Solzhenitsyn, di Vietnam Utara! Gagasan Solzhenitsyn tentang orang Amerika yang digunakan sebagai budak pekerja di Vietnam Utara memunculkan film Rambo dalam perang Vietnam. Wartawan Amerika yang berani menulis untuk mendukung perdamaian antara AS dan Uni Soviet dituduh oleh Solzhenitsyn dalam pidatonya sebagai calon pengkhianat. Solzhenitsyn juga melakukan propaganda untuk meningkatkan kapasitas militer AS melawan Uni Soviet, yang dia klaim lebih kuat dalam ‘tank dan pesawat terbang, lima sampai tujuh kali, dari pada AS’ dan juga senjata atom yang ‘pendeknya’ dia duga ‘dua, tiga atau bahkan lima kali’ lebih kuat daripada yang dimiliki oleh AS. Ceramah Solzhenitsyn tentang Uni Soviet mewakili suara ekstrem kanan. Tapi dia sendiri melangkah lebih jauh ke kanan lewat dukungan publiknya terhadap fasisme.

Dukungan untuk Fasisme Franco

Setelah Franco mati pada tahun 1975, rezim fasis Spanyol mulai kehilangan kendali atas situasi politik dan pada awal tahun 1976, peristiwa di Spanyol menjadi opini publik. Ada pemogokan dan demonstrasi untuk menuntut demokrasi dan kebebasan, dan pewaris Franco, King Juan Carlos, berkewajiban dengan sangat berhati-hati untuk memperkenalkan beberapa hal tentang liberalisasi untuk menenangkan agitasi sosial.

Pada saat yang paling penting dalam sejarah politik Spanyol, Alexander Solzhenitsyn muncul di Madrid dan memberikan sebuah sesi wawancara untuk program Directísimo pada Sabtu malam, tanggal 20 Maret (lihat surat kabar Spanyol, ABC dan Ya pada tanggal 21 Maret 1976). Solzhenitsyn, yang diwawancarai, menggunakan kesempatan itu untuk membuat segala macam pernyataan reaksioner. Niatnya bukan untuk mendukung langkah-langkah liberalisasi yang disebut King. Sebaliknya, Solzhenitsyn memperingatkan agar tidak melakukan reformasi demokrasi. Dalam wawancara televisinya, dia menyatakan bahwa 110 juta orang Rusia telah tewas sebagai korban sosialisme, dan dia membandingkan ‘perbudakan di mana orang-orang Soviet mengalami kebebasan yang dinikmati di Spanyol’. Solzhenitsyn juga menuduh ‘kalangan progresif’ dari ‘kaum utopis’ menganggap yang terjadi di Spanyol sebagai kediktatoran. Yang dimaksudkannya dengan ‘progresif’, berarti siapa pun dalam oposisi demokratis — apakah mereka liberal, sosial-demokrat atau komunis. ‘Musim gugur yang lalu,’ kata Solzhenitsyn, ‘opini publik dunia mengkhawatirkan nasib teroris Spanyol [yaitu, anti-fasis Spanyol yang dijatuhi hukuman mati oleh rezim Franco]. Sepanjang waktu, opini publik progresif menuntut reformasi politik yang demokratis sambil mendukung tindakan terorisme’.

“Mereka yang mencari reformasi demokrasi yang cepat, apakah mereka menyadari apa yang akan terjadi besok atau lusa? Di Spanyol mungkin ada demokrasi besok, tapi setelah besok bisakah menghindari jatuhnya demokrasi ke totalitarianisme?”

Ketika ditanya oleh para wartawan, apakah pernyataan semacam itu tidak dapat dilihat sebagai dukungan rezim di negara-negara di mana tidak ada kebebasan, Solzhenitsyn menjawab: ‘Saya hanya tahu satu tempat di mana tidak ada kebebasan dan itu adalah Rusia.’ Pernyataan Solzhenitsyn di televisi Spanyol merupakan dukungan langsung terhadap fasisme Spanyol, sebuah ideologi yang dia mendukung sampai hari ini. Inilah salah satu alasan mengapa Solzhenitsyn mulai menghilang dari pandangan publik dalam 18 tahun pengasingannya di AS, dan salah satu alasan mengapa dia mulai mendapatkan lebih sedikit dukungan total dari pemerintah kapitalis. Bagi kaum kapitalis, ini adalah pemberian dari surga untuk bisa menggunakan pria seperti Solzhenitsyn dalam perang kotor mereka melawan sosialisme, namun semuanya memiliki batasan. Di Rusia baru yang kapitalis, yang menentukan dukungan dari Barat untuk kelompok politik hanyalah kemampuan melakukan bisnis yang baik dengan keuntungan tinggi di bawah sayap kelompok tersebut. Fasisme sebagai rezim politik alternatif untuk Rusia dianggap tak baik untuk bisnis. Untuk alasan ini, rencana politik Solzhenitsyn untuk Rusia adalah surat tak berbalas sejauh yang diperhatikan oleh dukungan Barat. Apa yang Solzhenitsyn inginkan untuk masa depan politik Rusia adalah kembalinya rezim otoriter Tsar, bergandengan tangan dengan Gereja Orthodok! Bahkan imperialis yang paling congkak pun tak tertarik untuk mendukung kebodohan politik sebesar ini. Untuk menemukan siapa saja yang mendukung Solzhenitsyn di Barat, seseorang harus mencari di antara para dungu ekstrem kanan.

Nazi, polisi dan fasis

Jadi inilah pemasok paling berharga dari mitos borjuis mengenai jutaan orang yang telah tewas dan dipenjara di Uni Soviet: Nazi William Hearst, Agen Rahasia Robert Conquest dan Fasis Alexander Solzhenitsyn. Conquest memainkan peran utama, sebab informasi darinya lah yang digunakan oleh media massa kapitalis di seluruh dunia, dan bahkan menjadi dasar untuk mendirikan sekolah di universitas tertentu. Pekerjaan Conquest tanpa diragukan lagi adalah disinforman kelas satu. Pada tahun 1970-an, Conquest menerima banyak bantuan dari Solzhenitsyn dan serangkaian karakter sekunder seperti Andrei Sakharov dan Roy Medvedev. Selain itu, muncul di sana sini dan di seluruh dunia sejumlah orang yang mengabdikan diri untuk berspekulasi tentang jumlah akta dan jumlah orang dipenjara [di Soviet], dan selalu dibayar sekantung emas oleh pers borjuis. Tapi kebenaran dari masalah akhirnya terbuka dan telah menampilkan wajah sebenarnya dari pemalsuan sejarah ini. Perintah Gorbachev untuk membuka arsip rahasia partai untuk penyelidikan sejarah memiliki konsekuensi tak seorang pun bisa lagi berspekulasi.

Arsip menunjukkan kebohongan propaganda

Spekulasi tentang jutaan orang yang tewas di Uni Soviet adalah bagian dari perang propaganda kotor melawan Uni Soviet dan karena alasan ini, penyangkalan dan penjelasan tidak pernah dianggap serius dan tak pernah menemukan ruang dalam pers kapitalis. Mereka mengabaikan, sementara ‘spesialis’ yang dibeli oleh modal diberi ruang sebanyak yang mereka inginkan untuk menyebarkan fiksi mereka. Dan fiksi macam apa itu! Jutaan orang tewas dan dipenjarakan yang diklaim oleh Conquest dan ‘kritikus’ lainnya memiliki kesamaan bahwa ini adalah hasil dari perkiraan statistik yang palsu dan metode evaluasi yang tidak memiliki dasar ilmiah apa pun.

Metode yang menipu menyebabkan peningkatan jumlah jutaan orang yang tewas

Conquest, Solzhenitsyn, Medvedev dan yang lainnya menggunakan statistik yang diterbitkan oleh Uni Soviet, misalnya, sensus penduduk nasional, di mana mereka menambahkan peningkatan populasi dari yang seharusnya tanpa memperhitungkan situasi di negara ini. Dengan cara ini mereka mencapai kesimpulan mengenai berapa banyak orang yang seharusnya berada di negara ini pada akhir tahun-tahun tertentu. Orang-orang yang hilang pun diklaim telah tewas atau dipenjara karena sosialisme. Metodenya sederhana, sekaligus juga benar-benar menipu. Jenis ‘wahyu’ dari peristiwa politik penting semacam itu tidak akan pernah diterima jika ‘wahyu’ yang dimaksud menyangkut dunia barat. Dalam kasus seperti ini, pasti para profesor dan sejarawan akan memprotes tindakan semacam itu. Tapi karena Uni Soviet adalah objek dari rekayasa, mereka bisa diterima. Salah satu alasannya adalah bahwa para profesor dan sejarawan menempatkan kemajuan profesional mereka jauh melampaui integritas profesional mereka.

Dalam jumlah, apa kesimpulan akhir dari ‘kritik’ itu? Menurut Robert Conquest (dalam perkiraan yang dia buat pada tahun 1961) 6 juta orang tewas karena kelaparan di Uni Soviet pada awal 1930-an. Menurut Conquest, jumlah ini meningkat menjadi 14 juta pada tahun 1986. Mengenai apa yang dia katakan tentang kamp kerja paksa Gulag, yang ditahan di sana, menurut Conquest, 5 juta tahanan pada tahun 1937 sebelum pembersihan (purge) partai, tentara dan aparat negara dimulai. Setelah dimulainya pembersihan, menurut Conquest, pada tahun 1937–38, ada tambahan 7 juta tahanan, membuat total angka menjadi 12 juta tahanan di kamp kerja paksa pada tahun 1939! Dan 12 juta ini menurut Conquest hanyalah tahanan politik! Di kamp kerja paksa ada juga penjahat umum, yang menurut Conquest, jumlahnya jauh lebih banyak daripada jumlah tahanan politik. Ini berarti, menurut Conquest, ada 25–30 juta tahanan di kamp kerja paksa Uni Soviet.

Sekali lagi, menurut Conquest, satu juta tahanan politik dieksekusi antara tahun 1937 dan 1939, dan 2 juta lainnya tewas karena kelaparan. Maka penghitungan akhir yang dihasilkan dari pembersihan tahun 1937–39, menurut Conquest, adalah 9 juta, dengan 3 juta orang di antaranya tewas di penjara. Angka-angka ini segera dikenai ‘penyesuaian statistik’ oleh Conquest untuk memungkinkannya mencapai kesimpulan bahwa kaum Bolshevik telah membunuh tidak kurang dari 12 juta tahanan politik antara tahun 1930 dan 1953. Menambahkan angka-angka ini ke angka-angka yang dikatakan telah tewas dalam kelaparan tahun 1930-an, Conquest tiba pada kesimpulan bahwa kaum Bolshevik membunuh 26 juta orang. Dalam salah satu manipulasi statistik terakhirnya, Conquest mengklaim bahwa pada tahun 1950 terdapat 12 juta tahanan politik di Uni Soviet.

Alexander Solzhenitsyn menggunakan lebih atau kurang metode statistik yang sama seperti Conquest. Tetapi dengan menggunakan metode pseudo-ilmiah ini berdasarkan premis yang berbeda, dia sampai pada kesimpulan yang lebih ekstrem lagi. Solzhenitsyn menerima perkiraan Conquest sebesar 6 juta kematian yang timbul akibat kelaparan pada tahun 1932–33. Namun demikian, sejauh pembersihan 1936–39, dia percaya bahwa setidaknya satu juta orang tewas setiap tahun. Solzhenitsyn menyimpulkan dengan mengatakan bahwa dari awal masa kolektivisasi pertanian hingga kematian Stalin pada tahun 1953, komunis telah membunuh 66 juta orang di Uni Soviet. Selain itu, dia menganggap pemerintahan Soviet yang bertanggung jawab atas kematian 44 juta orang Rusia yang dia klaim terbunuh dalam Perang Dunia Kedua. Kesimpulan Solzhenitsyn adalah bahwa ‘110 juta orang Rusia jatuh, korban sosialisme’. Sejauh menyangkut tahanan, Solzhenitsyn mengatakan bahwa jumlah orang di kamp kerja paksa pada tahun 1953 adalah 25 juta.

Gorbachev membuka arsipnya

Kumpulan figur fantasi yang disebutkan di atas, produk fabrikasi dengan imbalan yang sangat baik, muncul dalam media borjuis pada tahun 1960-an, selalu disajikan sebagai fakta sejati yang dipastikan melalui penerapan metode ilmiah.

Di balik rekayasa ini mengintailah agen rahasia Barat, terutama CIA dan MI5. Dampak media massa terhadap opini publik sangat besar sehingga angka tersebut bahkan sampai saat ini diyakini benar oleh sebagian besar populasi negara-negara Barat.

Situasi memalukan ini tengah memburuk. Di Uni Soviet sendiri, di mana Solzhenitsyn dan ‘kritikus’ terkenal lainnya seperti Andrei Sakharov dan Roy Medvedev tidak dapat menemukan siapa-siapa untuk mendukung banyak fantasi mereka, sebuah perubahan signifikan terjadi pada tahun 1990. Dalam ‘free press’ yang baru dibuka di bawah Gorbachev, segala sesuatu yang bertentangan dengan sosialisme dianggap sebagai hal positif, dengan hasil yang buruk. Inflasi spekulatif yang belum pernah terjadi sebelumnya mulai terjadi dalam jumlah orang-orang yang diduga telah tewas atau dipenjara di bawah sosialisme, sekarang semuanya tercampur menjadi satu kelompok puluhan juta ‘korban’ komunis.

Histeria pers bebas Gorbachev yang baru itu membawa kebohongan Conquest dan Solzhenitsyn ke muka. Pada saat yang sama, Gorbachev membuka arsip Central Committee (CC) untuk penelitian historis, yang juga merupakan tuntutan dari kebebasan pers. Pembukaan arsip CC Partai Komunis benar-benar menjadi isu sentral dalam kisah kusut ini, karena dua alasan: sebagian karena di arsip dapat ditemukan fakta yang dapat menjelaskan kebenaran. Tapi yang lebih penting lagi adalah fakta bahwa mereka yang berspekulasi dengan liar mengenai jumlah orang yang tewas dan dipenjara di Uni Soviet telah bertahun-tahun mengklaim bahwa pada hari arsip dibuka, angka yang mereka kutip akan dikonfirmasi. Setiap orang dari spekulan mengklaim bahwa inilah kasusnya: Conquest, Sakharov, Medvedev, dan lainnya. Tapi saat arsip dibuka dan laporan penelitian berdasarkan dokumen yang sebenarnya mulai diterbitkan hal yang sangat aneh terjadi. Tiba-tiba saja pers bebas Gorbachev maupun para spekulan benar-benar kehilangan minat pada arsip tersebut.

Hasil penelitian yang dilakukan pada arsip CC oleh sejarawan Rusia Zemskov, Dougin dan Xlevnjuk, yang mulai muncul dalam jurnal ilmiah sejak tahun 1990, sama sekali tidak dibuka. Laporan yang berisi hasil penelitian historis ini benar-benar bertentangan dengan arus inflasi yang diklaim oleh ‘kebebasan pers’ mengenai jumlah yang tewas atau dipenjara. Oleh karena itu isinya tetap tidak dipublikasikan. Laporan tersebut dipublikasikan di jurnal ilmiah dengan sirkulasi rendah yang hampir tidak diketahui oleh masyarakat luas. Laporan hasil penelitian ilmiah hampir tidak dapat bersaing dengan histeria pers, jadi kebohongan Conquest dan Solzhenitsyn terus mendapat dukungan dari banyak sektor dari populasi bekas Uni Soviet. Di Barat juga, laporan para peneliti Rusia mengenai sistem hukuman di bawah Stalin diabaikan sama sekali di halaman depan surat kabar, dan oleh siaran berita TV. Mengapa?

Apa yang ditunjukkan oleh penelitian Rusia

Penelitian tentang sistem hukuman Soviet ditetapkan dalam sebuah laporan yang tebalnya hampir 9.000 halaman. Penulis laporan ini banyak, tapi yang paling terkenal adalah sejarawan Rusia V N Zemskov, A N Dougin dan O V Xlevjnik. Pekerjaan mereka mulai diterbitkan pada tahun 1990 dan pada tahun 1993 hampir selesai dan dipublikasikan hampir seluruhnya. Laporan itu sampai pada pengetahuan Barat sebagai hasil kolaborasi antara peneliti dari berbagai negara Barat. Dua karya penulis yang sekarang dikenal adalah: buku yang terbit di jurnal Prancis l’Histoire pada bulan September 1993, yang ditulis oleh Nicholas Werth, kepala peneliti pusat penelitian ilmiah Prancis, CNRS (Center National de la Recherche Scientifique ), dan karya yang diterbitkan di jurnal American Historical Review oleh J Arch Getty, seorang profesor sejarah di University of California, Riverside, bekerja sama dengan GT Rettersporn, seorang peneliti CRNS, dan peneliti Rusia, V AN Zemskov, dari Institut Sejarah Rusia (bagian dari Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia). Sekarang, buku-buku hal-ihwal masalah tersebut telah muncul, yang ditulis oleh para peneliti di atas atau oleh orang lain dari tim peneliti yang sama. Sebelum melangkah lebih jauh, saya ingin menjelaskan, sehingga tidak ada kebingungan di masa depan, bahwa tak ada ilmuwan yang terlibat dalam penelitian ini yang memiliki pandangan dunia sosialis. Sebaliknya pandangan mereka adalah kaum borjuis dan anti-sosialis. Malah banyak di antara mereka cukup reaksioner. Hal ini dikatakan sehingga pembaca tidak membayangkan bahwa apa yang akan diuraikan di bawah ini adalah produk dari beberapa ‘konspirasi komunis’. Apa yang terjadi adalah bahwa periset yang disebutkan di atas telah benar-benar mengungkapkan kebohongan Conquest, Solzhenitsyn, Medvedev dan lainnya, yang telah mereka lakukan dengan murni karena fakta bahwa mereka menempatkan integritas profesional mereka di tempat pertama dan tidak membiarkan diri mereka menjadi dapat dibeli untuk keperluan propaganda.

Hasil penelitian Rusia menjawab sejumlah besar pertanyaan tentang sistem hukuman Soviet. Bagi kami ini adalah era Stalin yang sangat menarik, dan di situlah kami menemukan alasan untuk berdebat. Kami akan mengajukan sejumlah pertanyaan yang sangat spesifik dan kami akan mencari jawaban kami di jurnal l’Histoire dan American Historical Review. Ini akan menjadi cara terbaik untuk memperkuat debat beberapa aspek terpenting dari sistem hukuman Soviet. Pertanyaannya adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana sistem pidana Soviet?
2. Berapa tahanan yang ada di sana — baik politik maupun non-politik?
3. Berapa banyak orang yang tewas di kamp kerja paksa?
4. Berapa banyak orang yang dihukum mati pada tahun-tahun sebelum tahun 1953, terutama dalam pembersihan tahun 1937–38?
5. Berapa lama, rata-rata hukuman penjara?

Setelah menjawab kelima pertanyaan ini, kami akan membahas hukuman yang dikenakan pada dua kelompok yang paling sering disebutkan sehubungan dengan narapidana dan kematian di Uni Soviet, yaitu kulak yang dihukum pada tahun 1930 dan kontra-revolusioner dihukum pada tahun 1936–38.

Kamp kerja paksa dalam sistem pidana

Mari kita mulai dengan pertanyaan tentang sifat sistem hukuman Soviet. Setelah 1930 sistem hukuman Soviet mencakup penjara, kamp kerja paksa, koloni buruh di Gulag, zona terbuka khusus dan kewajiban untuk membayar denda. Siapa pun yang ditahan dalam tahanan umumnya dikirim ke penjara yang normal sementara penyelidikan dilakukan untuk menentukan apakah dia mungkin tidak bersalah, dan dengan demikian dapat dibebaskan, atau apakah dia harus diadili. Orang yang dituduh dapat ditemukan tidak bersalah (dan dibebaskan) atau bersalah. Jika terbukti bersalah dia bisa dihukum denda, dipenjara atau, lebih luar biasa lagi, untuk menghadapi eksekusi. Sebuah denda bisa jadi diambil dari persentase upahnya untuk periode waktu tertentu. Mereka yang dijatuhi hukuman penjara dapat dimasukkan ke dalam berbagai jenis penjara tergantung pada jenis pelanggaran yang terlibat.

Pada kamp kerja paksa dikirim orang-orang yang melakukan pelanggaran serius (pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, kejahatan ekonomi, dan sebagainya) serta sebagian besar dari mereka yang melakukan kejahatan kontra-revolusioner. Penjahat lain yang dijatuhi hukuman lebih dari 3 tahun juga bisa dikirim ke kamp kerja paksa. Setelah menghabiskan beberapa waktu di sebuah kamp kerja paksa, seorang tahanan mungkin dipindahkan ke koloni buruh atau ke zona terbuka khusus.

Kamp kerja paksa adalah daerah yang sangat luas tempat para tahanan tinggal dan bekerja di bawah pengawasan ketat. Di tempat ini, bekerja dan tidak menjadi beban masyarakat mutlak diharuskan. Tidak ada orang sehat yang bisa melaluinya tanpa bekerja. Ada kemungkinan bahwa hari-hari ini orang mungkin menganggap ini adalah hal yang mengerikan, tapi begitulah adanya. Jumlah kamp kerja paksa yang ada pada tahun 1940 adalah 53.

Ada 425 koloni buruh gulag. Ini adalah unit yang jauh lebih kecil daripada kamp kerja paksa, dengan rezim yang lebih bebas dan pengawasan yang kurang. Untuk ini dikirim tahanan dengan hukuman penjara lebih pendek — orang-orang yang telah melakukan pelanggaran pidana atau politik yang kurang serius. Mereka bekerja dalam kebebasan di pabrik atau di darat dan merupakan bagian dari masyarakat sipil. Dalam kebanyakan kasus, seluruh upah yang dia dapatkan dari pekerjaannya adalah milik narapidana, yang dalam hal ini diperlakukan sama seperti pekerja lainnya.

Zona terbuka khusus pada umumnya adalah daerah pertanian bagi mereka yang telah diasingkan, seperti kulak yang telah diambil alih lahannya selama kolektivisasi. Orang lain yang dinyatakan bersalah atas pelanggaran kriminal atau kejahatan ringan mungkin juga memenuhi persyaratan mereka di bidang ini.

454.000 bukan 9 juta

Pertanyaan kedua menyangkut berapa banyak tahanan politik di sana, dan berapa banyak penjahat biasa. Pertanyaan ini termasuk mereka yang dipenjara di kamp kerja paksa, koloni gulag dan penjara (meskipun harus diingat bahwa di koloni buruh ada, dalam sebagian besar kasus, hanya kehilangan sebagian kebebasan). Tabel di bawah ini menunjukkan data yang muncul dalam American Historical Review, data yang mencakup periode 20 tahun yang dimulai pada tahun 1934, ketika sistem hukuman disatukan di bawah pemerintahan pusat, sampai tahun 1953, tahun Stalin meninggal.

GULAG!

Dari Tabel di atas, ada serangkaian kesimpulan yang perlu ditarik. Untuk memulai dengan kita dapat membandingkan datanya dengan yang diberikan oleh Robert Conquest. Yang terakhir mengklaim bahwa pada tahun 1939 ada 9 juta tahanan politik di kamp kerja paksa dan bahwa 3 juta lainnya telah tewas pada periode 1937–1939. Biarkan pembaca tidak lupa bahwa Conquest di sini hanya berbicara tentang tahanan politik! Terlepas dari ini, kata Conquest, ada juga penjahat umum yang, menurut dia, jumlahnya jauh lebih besar daripada tahanan politik! Pada tahun 1950 ada, menurut Conquest, 12 juta tahanan politik! Dengan berbekal fakta yang sebenarnya, kita dapat dengan mudah melihat betapa penipu sebenarnya Conquest ini. Tidak satu pun dari figur-figurnya sesuai dengan kebenaran. Pada tahun 1939 total orang yang ada di semua kamp, ​​koloni dan penjara yang berjarak hampir 2 juta tahanan. Dari jumlah 454.000 ini telah melakukan kejahatan politik, bukan 9 juta karena Conquest menegaskan. Mereka yang tewas di kamp kerja paksa antara tahun 1937 dan 1939 berjumlah sekitar 160.000, bukan 3 juta karena Conquest menegaskan. Pada tahun 1950 ada 578.000 tahanan politik di kamp kerja paksa, tidak 12 juta. Biarkan pembaca tidak lupa bahwa Robert Conquest sampai hari ini tetap menjadi salah satu sumber utama propaganda sayap kanan melawan komunisme. Di antara para pseudo-intelektual sayap kanan, Robert Conquest adalah sosok dewa. Adapun angka yang dikutip oleh Alexander Solzhenitsyn — 60 juta diduga tewas di kamp kerja paksa — tidak perlu dikomentari. Absurditas tuduhan semacam itu nyata. Hanya pikiran sakit yang bisa mempromosikan delusi semacam itu.

Sekarang mari kita tinggalkan penipu ini agar kita bisa mengkritisi statistik-statistik yang berkaitan dengan Gulag. Pertanyaan pertama yang harus ditanyakan adalah pandangan apa yang harus kita ambil tentang jumlah orang yang tetangkap dalam sistem hukum? Apa arti dari angka 2,5 juta itu? Setiap orang yang dipenjara adalah bukti hidup bahwa masyarakat masih belum cukup berkembang untuk dapat memberi setiap warga negara segala yang dibutuhkannya seumur hidup. Dari sudut pandang ini, 2,5 juta memang mewakili kritik masyarakat.

Ancaman internal dan eksternal

Jumlah orang yang tertangkap dalam sistem hukuman (penal system) perlu dijelaskan dengan benar. Uni Soviet adalah sebuah negara yang baru saja menggulingkan feodalisme, dan warisan sosialnya dalam masalah hak asasi manusia seringkali menjadi beban masyarakat. Dalam sistem kuno seperti tsardom, para pekerja dikutuk untuk hidup dalam kemiskinan yang dalam, dan kehidupan manusia memiliki nilai yang kecil. Perampokan dan kejahatan kekerasan dihukum dengan kekerasan yang tidak terkendali. Pemberontakan melawan monarki biasanya berakhir dengan pembantaian, hukuman mati dan hukuman penjara yang sangat panjang. Hubungan sosial ini, dan kebiasaan pikiran yang terkait dengan mereka, membutuhkan waktu lama untuk berubah, sebuah fakta yang mempengaruhi perkembangan masyarakat di Uni Soviet serta sikap terhadap penjahat.

Faktor lain yang harus dipertimbangkan adalah bahwa Uni Soviet, sebuah negara yang pada 1930-an memiliki hampir 160–170 juta penduduk, mendapat ancaman serius oleh kekuatan asing. Sebagai hasil dari perubahan politik besar yang terjadi di Eropa pada tahun 1930-an, ada ancaman perang yang besar dari arah Nazi Jerman, sebuah ancaman bagi kelangsungan hidup orang-orang Slavia, dan blok barat juga menyimpan ambisi intervensionis. Situasi ini disimpulkan oleh Stalin pada tahun 1931 dengan kata-kata berikut: “Kita 50–100 tahun di belakang negara-negara maju. Kita harus menutup celah itu dalam 10 tahun. Kita melakukannya atau kita akan musnah.” Sepuluh tahun kemudian, pada tanggal 22 Juni 1941, Uni Soviet diserang oleh Nazi Jerman dan sekutu-sekutunya. Masyarakat Soviet dipaksa melakukan upaya yang besar pada dekade 1930–1940, ketika sebagian besar sumber dayanya didedikasikan untuk persiapan pertahanannya untuk perang yang akan datang melawan Nazi. Karena itu, orang bekerja keras sambil menghasilkan sedikit keuntungan pribadi. Pengenalan Hari 7 Jam Kerja ditarik kembali pada tahun 1937, dan pada tahun 1939 hampir setiap hari Minggu adalah hari kerja. Dalam periode yang sulit seperti ini, dengan perang besar yang menggantung di atas perkembangan masyarakat selama dua dekade (1930-an dan 1940an), sebuah perang yang menghabiskan nyawa sekitar 25 juta orang Uni Soviet dengan setengah negara dibakar menjadi sisa arang, kejahatan memang cenderung meningkat saat orang mencoba menolong diri mereka sendiri terhadap apa yang tidak dapat ditawarkan oleh kehidupan mereka.

Selama masa sulit ini, Uni Soviet menahan jumlah maksimum 2,5 juta orang di dalam sistem penjara, yaitu 2,4% dari populasi orang dewasa. Bagaimana kita bisa mengevaluasi angka ini? Apakah itu banyak atau sedikit? Mari kita bandingkan.

Lebih banyak tahanan di AS

Di Amerika Serikat, misalnya, sebuah negara berpenduduk 252 juta jiwa (tahun 1996), negara terkaya di dunia, yang mengkonsumsi 60% sumber daya dunia, berapa banyak orang yang dipenjara? Bagaimana situasi di AS, sebuah negara yang tidak terancam oleh perang dan di mana tidak ada perubahan sosial yang mendalam yang mempengaruhi stabilitas ekonomi?

Dalam sebuah berita kecil yang muncul di surat kabar pada Agustus 1997, kantor berita FLT-AP melaporkan bahwa di AS, sebelumnya tidak pernah ada begitu banyak orang di dalam sistem penjara sebanyak 5.5 juta yang diadakan pada tahun 1996. Ini merupakan peningkatan 200.0000 orang sejak 1995 dan berarti jumlah penjahat di AS sama dengan 2,8% populasi orang dewasa. Data ini tersedia bagi semua pihak yang merupakan bagian dari departemen keadilan Amerika Utara. (Halaman Statistik Biro Hukum, http://www.ojp.usdoj.gov/bjs/). Jumlah narapidana di AS saat ini adalah 3 juta lebih tinggi dari jumlah maksimum yang pernah ada di Uni Soviet! Di Uni Soviet ada maksimum 2,4% populasi orang dewasa di penjara karena kejahatan mereka — di AS angka tersebut adalah 2,8%, dan meningkat! Menurut sebuah siaran pers yang dikeluarkan oleh departemen kehakiman AS pada tanggal 18 Januari 1998, jumlah narapidana di AS pada tahun 1997 meningkat sebesar 96.100.

Sejauh menyangkut kamp kerja paksa Soviet, memang benar bahwa rezim tersebut keras dan sulit bagi para tahanan, tapi bagaimana situasinya hari ini di penjara-penjara AS, yang dipenuhi dengan kekerasan, narkoba, pelacuran, perbudakan seksual (290.000 perkosaan setahun di penjara AS). Tidak ada yang merasa aman di penjara AS! Dan ini terjadi hari ini, di masyarakat lebih kaya dari sebelumnya!

Faktor penting — kurangnya obat-obatan

Sekarang mari kita menanggapi pertanyaan ketiga yang diajukan. Berapa banyak orang yang tewas di kamp kerja paksa? Jumlahnya bervariasi dari tahun ke tahun, dari 5,2% pada tahun 1934 menjadi 0,3% pada tahun 1953. Kematian di kamp kerja paksa disebabkan oleh kekurangan sumber daya umum di masyarakat secara keseluruhan, khususnya obat-obatan yang diperlukan untuk melawan epidemi. Masalah ini tidak terbatas pada kamp kerja paksa namun hadir di masyarakat, juga di sebagian besar negara di dunia. Begitu antibiotik telah ditemukan dan digunakan secara umum setelah Perang Dunia II, situasinya berubah secara radikal. Sebenarnya, tahun-tahun terburuk adalah tahun-tahun perang ketika orang-orang barbar Nazi memberlakukan kondisi kehidupan yang sangat keras pada semua warga Soviet. Selama 4 tahun tersebut, lebih dari setengah juta orang tewas di kamp kerja paksa — setengah jumlah total sekarat selama periode 20 tahun yang bersangkutan. Janganlah kita lupakan bahwa pada periode yang sama, tahun-tahun perang, 25 juta orang tewas di antara mereka yang bebas. Pada tahun 1950, ketika kondisi di Uni Soviet membaik dan antibiotik telah diperkenalkan, jumlah orang yang meninggal di penjara turun menjadi 0,3%.

Mari kita beralih ke pertanyaan keempat yang diajukan. Berapa banyak orang yang dihukum mati sebelum tahun 1953, terutama saat pembersihan tahun 1937–38? Kami telah mencatat klaim Robert Conquest bahwa Bolshevik membunuh 12 juta tahanan politik di kamp kerja paksa antara tahun 1930 dan 1953. Dari jumlah ini 1 juta diperkirakan terbunuh antara tahun 1937 dan 1938. Tokoh-tokoh Solzhenitsyn lari ke jumlah puluhan juta yang tewas di kamp kerja paksa — 3 juta pada tahun 1937–38 saja. Bahkan angka yang lebih tinggi telah dikutip dalam perang propaganda kotor melawan Uni Soviet. Orang Rusia, Olga Shatunovskaya, misalnya, mengutip angka 7 juta orang tewas dalam pembersihan tahun 1937–38.

Dokumen-dokumen yang sekarang muncul dari arsip Soviet, bagaimanapun, menceritakan sebuah cerita yang berbeda. Perlu disebutkan di sini pada awalnya bahwa jumlah orang yang dihukum mati harus diambil dari arsip yang berbeda dan bahwa para periset, untuk mencapai perkiraan, harus mengumpulkan data dari berbagai arsip ini dengan cara tertentu. Yang menimbulkan risiko penghitungan ganda dan dengan demikian menghasilkan perkiraan yang lebih tinggi daripada kenyataan. Menurut Dimitri Volkogonov, orang yang ditunjuk oleh Yeltsin untuk menangani arsip-arsip Soviet lama, ada 30.514 orang yang dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan militer antara 1 Oktober 1936 dan 30 September 1938. Informasi lain berasal dari KGB: menurut informasi dilepaskan ke pers pada bulan Februari 1990, ada 786.098 orang dihukum mati karena kejahatan terhadap revolusi selama 23 tahun dari tahun 1930–1953. Dari mereka yang dihukum, menurut KGB, 681.692 dihukum antara tahun 1937 dan 1938. Tidak mungkin melakukan double check terhadap tokoh KGB namun informasi terakhir ini terbuka untuk diragukan. Akan sangat aneh bagi begitu banyak orang yang telah dijatuhi hukuman mati hanya dalam waktu dua tahun. Mungkinkah KGB pro-kapitalis saat ini akan memberi kita informasi yang benar dari KGB pro-sosialis? Jadilah seperti itu, masih harus diverifikasi apakah statistik yang mendasari informasi KGB termasuk di antara yang dikatakan telah dijatuhi hukuman mati selama 23 tahun yang bersangkutan dengan penjahat umum dan juga kontra-revolusioner, daripada kontra-revolusioner saja seperti klaim KGB pro-kapitalis dalam siaran pers Februari 1990. Arsip-arsip tersebut juga cenderung menyimpulkan bahwa jumlah penjahat umum dan jumlah kontra-revolusioner yang dijatuhi hukuman mati kira-kira sama.

Kesimpulan yang bisa kita tarik dari ini adalah bahwa jumlah mereka yang dihukum mati pada tahun 1937–38 mendekati 100.000, dan tidak beberapa juta seperti yang telah diklaim oleh propaganda Barat.

Perlu juga diingat bahwa tidak semua yang dijatuhi hukuman mati di Uni Soviet benar-benar dieksekusi. Sebagian besar hukuman mati dikurangi untuk dipertimbangkan di kamp kerja paksa. Hal ini juga penting untuk membedakan antara penjahat umum dan kontra-revolusioner. Banyak dari mereka yang dijatuhi hukuman mati telah melakukan kejahatan kekerasan seperti pembunuhan atau pemerkosaan. 60 tahun yang lalu jenis kejahatan ini dapat dihukum mati di sejumlah besar negara.

Pertanyaan 5: Berapa lama hukuman penjara rata-rata? Lamanya hukuman penjara telah menjadi pokok pembicaraan yang paling ganas dalam propaganda Barat. Sindiran yang biasa adalah bahwa menjadi narapidana di Uni Soviet itu menghabiskan bertahun-tahun yang tak ada habisnya di penjara — siapa pun yang masuk tidak pernah keluar. Ini sama sekali tidak benar. Sebagian besar dari mereka yang dipenjara di masa Stalin sebenarnya dihukum paling lama 5 tahun.

Statistik yang direproduksi dalam American Historical Review menunjukkan fakta sebenarnya. Penjahat umum di Federasi Rusia pada tahun 1936 menerima kalimat berikut: sampai 5 tahun: 82,4%; Antara 5–10 tahun: 17,6%. 10 tahun adalah hukuman penjara maksimum yang mungkin dilakukan sebelum 1937. Tahanan politik yang dihukum di pengadilan sipil Uni Soviet pada tahun 1936 menerima hukuman sebagai berikut: sampai 5 tahun: 44,2%; Antara 5–10 tahun 50,7%. Sedangkan untuk mereka yang dijatuhi hukuman di kamp kerja paksa gulag, di mana hukuman yang lebih lama terlayani, statistik 1940 menunjukkan bahwa mereka yang melayani sampai 5 tahun adalah 56,8% dan mereka yang berusia antara 5–10 tahun 42,2%. Hanya 1% yang dijatuhi hukuman lebih dari 10 tahun.

Untuk tahun 1939 kita memiliki statistik yang dihasilkan oleh pengadilan Soviet. Penyebaran hukuman penjara adalah sebagai berikut: sampai 5 tahun: 95,9%; Dari 5–10 tahun: 4%; Lebih dari 10 tahun: 0,1%.

Seperti yang bisa kita lihat, keabadian penjara di Uni Soviet adalah mitos lain yang menyebar di Barat untuk memerangi sosialisme.

Kebohongan tentang Uni Soviet

Diskusi singkat mengenai laporan penelitian.

Penelitian yang dilakukan oleh sejarawan Rusia menunjukkan kenyataan yang sama sekali berbeda dengan yang diajarkan di sekolah dan universitas di dunia kapitalis selama 50 tahun terakhir. Selama 50 tahun perang dingin ini, beberapa generasi hanya mempelajari kebohongan tentang Uni Soviet, yang telah meninggalkan kesan mendalam pada banyak orang. Fakta ini juga dibuktikan dalam laporan penelitian Prancis dan Amerika. Dalam laporan ini direproduksi data, angka dan tabel yang menyebutkan orang-orang yang dihukum dan mereka yang meninggal, angka-angka ini menjadi subyek diskusi yang intens. Tapi yang paling penting untuk dicatat adalah bahwa kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang yang telah divonis tidak pernah menjadi masalah kepentingan apapun. Propaganda politik kapitalis selalu menghadirkan tahanan Soviet sebagai korban yang tidak bersalah dan para periset telah mengambil asumsi ini tanpa mempertanyakannya. Ketika para peneliti beralih dari kolom statistik mereka ke komentar mereka mengenai kejadian tersebut, ideologi borjuis mereka datang ke depan — dengan hasil yang terkadang mengerikan. Mereka yang dihukum dengan sistem hukuman Soviet diperlakukan sebagai korban yang tidak bersalah, namun faktanya adalah kebanyakan dari mereka merupakan pencuri, pembunuh, pemerkosa, dan lain-lain. Penjahat semacam ini tidak akan pernah dianggap sebagai korban tak berdosa oleh pers jika kejahatan mereka dilakukan di Eropa atau Amerika Serikat. Tapi karena kejahatan dilakukan di Uni Soviet, itu berbeda. Untuk memanggil pembunuh, atau orang yang telah memperkosa lebih dari satu kali, sebagai korban yang tidak bersalah adalah permainan yang sangat kotor. Beberapa akal sehat setidaknya perlu ditunjukkan saat mengomentari keadilan Soviet, setidaknya terkait dengan penjahat yang dihukum karena melakukan kejahatan dengan kekerasan, bahkan jika hal itu tidak dapat dikelola sehubungan dengan sifat hukuman, setidaknya setidak-tidaknya mengenai kepastian hukuman Orang yang telah melakukan kejahatan semacam ini.

Kulak dan kontra-revolusi

Untuk kasus kontra-revolusioner, perlu juga mempertimbangkan kejahatan yang menyebabkan mereka dituduh. Mari kita berikan dua contoh untuk menunjukkan pentingnya pertanyaan ini: yang pertama adalah kulak yang dijatuhi hukuman pada awal tahun 1930-an dan yang kedua adalah konspirator dan kontra-revolusioner yang dihukum pada tahun 1936–38.

“Poor and middle class, increasing crops, establishing a technological culture, and strengthening the economy!” — Poster Kolektivisasi Lahan

Menurut laporan penelitian sejauh mereka berurusan dengan kulak, petani kaya, ada 381.000 keluarga, yaitu sekitar 1,8 juta orang dikirim ke pengasingan. Sejumlah kecil dari orang-orang ini dijatuhi hukuman untuk menjalani hukuman di kamp kerja paksa atau koloni. Tapi apa yang menimbulkan hukuman ini?

Petani Rusia yang kaya, kulak, telah menyebabkan petani miskin mengalami penindasan tanpa batas dan eksploitasi tak terkendali selama ratusan tahun. Dari 120 juta petani pada tahun 1927, 10 juta kulak hidup dalam kemewahan sementara 110 juta sisanya hidup dalam kemiskinan. Sebelum revolusi mereka hidup dalam kemiskinan yang paling hina. Kekayaan kulak adalah hasil kerja keras para petani miskin. Ketika petani miskin mulai bergabung bersama di peternakan kolektif, sumber utama kekayaan kulak hilang. Tapi kulak tidak menyerah. Mereka mencoba mengembalikan eksploitasi dengan menggunakan memprovokasi bencana kelaparan. Kelompok kulak bersenjata menyerang pertanian kolektif, membunuh petani miskin dan pekerja partai, membakar ladang dan membunuh hewan yang bekerja. Dengan memprovokasi kelaparan di kalangan petani miskin, para kulak berusaha untuk menjamin kelestarian kemiskinan dan posisi kekuasaan mereka sendiri. Peristiwa yang terjadi tidak seperti yang diharapkan oleh para pembunuh ini. Kali ini petani miskin mendapat dukungan dari revolusi dan terbukti lebih kuat dari pada para kulak, yang dikalahkan, dipenjara dan dikirim ke pengasingan atau dijatuhi hukuman di kamp kerja paksa.

Dari 10 juta kulak, 1,8 juta diasingkan atau dihukum. Mungkin ada ketidakadilan yang dilakukan di pedesaan Soviet selama perjuangan kelas yang besar ini, sebuah perjuangan yang melibatkan 120 juta orang. Tapi bisakah kita menyalahkan orang miskin dan tertindas, dalam perjuangan mereka untuk hidup yang layak, dalam perjuangan mereka untuk memastikan anak-anak mereka tidak kelaparan dan buta huruf, karena tidak cukup ‘beradab’ atau menunjukkan cukup ‘belas kasihan’ di pengadilan mereka? Dapatkah seseorang menunjuk orang yang selama ratusan tahun tidak memiliki akses terhadap kemajuan yang dibuat oleh peradaban karena tidak beradab? Dan silakan beritahu kami, kapan para penguasa kulak itu beradab atau berbelas kasihan dalam berurusan dengan petani miskin selama bertahun-tahun dan tanpa henti mengeksploitasi.

Pembersihan tahun 1937

Contoh kedua, kontra-revolusioner yang dipidana dalam Pengadilan 1936–38 yang diikuti dengan pembersihan aparat partai, tentara dan negara, berakar pada sejarah gerakan revolusioner di Rusia. Jutaan orang berpartisipasi dalam perjuangan yang berhasil menang melawan Tsar dan borjuasi Rusia, dan banyak di antaranya bergabung dengan Partai Komunis Rusia. Di antara semua orang ini ada, sayangnya, beberapa orang yang masuk partai karena alasan selain memperjuangkan proletariat dan sosialisme. Tapi perjuangan kelas sedemikian pentingnya sehingga seringkali tidak ada waktu atau kesempatan untuk melakukan tes dan menempatkan anggota baru yang militan itu. Bahkan militan dari partai lain yang menyebut diri mereka sosialis dan yang telah berjuang melawan partai Bolshevik tersebut masuk ke Partai Komunis. Sejumlah aktivis baru ini diberi posisi penting di Partai Bolshevik, negara dan angkatan bersenjata, bergantung pada kemampuan masing-masing untuk melakukan perjuangan kelas. Ini adalah masa-masa sulit bagi negara Soviet yang masih muda, dan kekurangan kader — atau bahkan orang-orang yang bisa membaca — memaksa partai tersebut untuk membuat beberapa tuntutan mengenai kualitas aktivis dan kader baru. Karena masalah ini, muncul kontradiksi yang memisahkan partai menjadi dua kubu — di satu sisi mereka yang ingin maju dalam perjuangan membangun masyarakat sosialis, dan di sisi lain mereka yang menganggap bahwa kondisinya belum matang untuk membangun sosialisme dan mempromosikan demokrasi sosial. Asal usul gagasan ini ada di Trotsky, yang telah bergabung dalam partai tersebut pada bulan Juli 1917. Trotsky bisa dari waktu ke waktu mendapatkan dukungan dari beberapa Bolshevik terkenal. Oposisi ini bersatu melawan rencana Bolshevik yang asli untuk memberikan salah satu pilihan kebijakan yang menjadi subjek pemungutan suara pada tanggal 27 Desember 1927. Sebelum pemungutan suara ini dilakukan, telah terjadi perdebatan besar di partai yang terus berlanjut selama bertahun-tahun dan hasilnya tidak membuat siapa-siapa di sana memiliki keraguan lagi. Dari 725.000 pemeran suara, oposisi mengamankan 6.000 — yaitu, kurang dari 1% aktivis partai mendukung oposisi bersatu.

Sebagai konsekuensi dari pemungutan suara, dan begitu oposisi mulai bekerja untuk sebuah kebijakan yang bertentangan dengan partai tersebut, CC Partai Komunis memutuskan untuk mengeluarkan pemimpin utama oposisi yang bersatu dari partai. Tokoh oposisi pusat, Trotsky, diusir dari Uni Soviet. Tapi cerita tentang oposisi ini tidak berakhir di sana. Zinoviev, Kamenev dan Zvdokine kemudian membuat oto-kritik, seperti yang dilakukan beberapa orang Trotskyis terkemuka, seperti Pyatakov, Radek, Preobrazhinsky dan Smirnov. Mereka semua masuk ke dalam partai sekali lagi sebagai aktivis dan sekali lagi mengangkat status dan jabatan mereka. Pada saatnya menjadi jelas bahwa kritik diri yang dibuat oleh pihak oposisi tidak asli, karena para pemimpin oposisi itu kembali bersatu di sisi kontra-revolusi setiap kali perjuangan kelas dipertajam di Uni Soviet. Mayoritas kaum oposisi diusir dan diakui lagi beberapa kali sebelum situasi tersebut benar-benar dipastikan pada tahun 1937–38.

Sabotase industri

Pembunuhan Kirov, ketua partai Leningrad dan salah satu orang terpenting di CC pada bulan Desember 1934 memicu penyelidikan yang mengarah pada penemuan sebuah organisasi rahasia yang terlibat dalam mempersiapkan sebuah konspirasi untuk mengambil alih kepemimpinan partai dan pemerintah negara melalui kekerasan. Setelah perjuangan politik mereka kalah pada tahun 1927, sekarang mereka berharap bisa menang dengan cara mengorganisir kekerasan terhadap negara. Senjata utama mereka adalah sabotase industri, terorisme dan korupsi. Trotsky, inspirasi utama bagi oposisi, mengarahkan aktivitas mereka dari luar negeri. Sabotase industri menyebabkan kerugian besar bagi negara Soviet, dengan biaya yang sangat besar, misalnya, mesin-mesin penting rusak di luar kemungkinan perbaikan, dan terjadi penurunan produksi yang sangat besar di tambang dan pabrik.

Salah satu orang yang pada tahun 1934 menguraikan masalahnya adalah insinyur Amerika John Littlepage, salah seorang spesialis asing yang dikontrak untuk bekerja di Uni Soviet. Littlepage menghabiskan 10 tahun bekerja di industri pertambangan Soviet — dari tahun 1927–37, terutama di tambang emas. Dalam bukunya In Search of Societ Gold, dia menulis: “Saya tidak pernah tertarik pada seluk beluk manuver politik di Rusia asalkan saya dapat menghindarinya; Tapi saya harus mempelajari apa yang terjadi di industri Soviet untuk melakukan pekerjaan saya. Dan saya sangat yakin bahwa Stalin dan rekan-rekannya membutuhkan waktu lama untuk menemukan bahwa komunis revolusioner yang tidak puas adalah musuh terburuknya.”

Littlepage juga menulis bahwa pengalaman pribadinya mengkonfirmasi pernyataan resmi tersebut, bahwa sebuah persekongkolan besar yang diarahkan dari luar negeri menggunakan sabotase industri besar sebagai bagian dari rencana untuk memaksa pemerintah jatuh. Pada tahun 1931 Littlepage sudah merasa wajib untuk mencatat hal ini, saat bekerja di tambang tembaga dan perunggu di Ural dan Kazakhstan. Tambang tersebut merupakan bagian dari kompleks tembaga/perunggu besar di bawah arahan keseluruhan Pyatakov, Komisar Rakyat untuk industri berat. Tambang itu berada dalam keadaan bencana sejauh memperhatikan produksi dan kesejahteraan pekerja. Littlepage sampai pada kesimpulan bahwa ada sabotase terorganisir yang terjadi yang berasal dari puncak manajemen kompleks tembaga/perunggu.

Buku Littlepage juga memberi tahu kita dari mana oposisi Trotskyite memperoleh uang yang diperlukan untuk membayar aktivitas kontra-revolusioner ini. Banyak anggota oposisi rahasia menggunakan posisi mereka untuk menyetujui pembelian mesin dari pabrik tertentu di luar negeri. Produk yang disetujui memiliki kualitas yang jauh lebih rendah daripada yang sebenarnya dibayar oleh pemerintah Soviet. Produsen asing memberi organisasi Trotsky surplus dari transaksi semacam itu, akibatnya Trotsky dan rekan konspiratornya di Uni Soviet terus memesan dari produsen ini.

Pencurian dan korupsi

Prosedur ini diamati oleh Littlepage di Berlin pada musim semi 1931 saat membeli lift industri untuk pertambangan. Delegasi Soviet dipimpin oleh Pyatakov, dengan Littlepage sebagai spesialis yang bertanggung jawab untuk memverifikasi kualitas lift dan menyetujui pembelian tersebut. Littlepage menemukan kecurangan yang melibatkan lift dengan kualitas rendah, tidak berguna untuk tujuan Soviet, namun ketika dia memberi tahu Pyatakov dan anggota delegasi Soviet lainnya tentang fakta ini, dia dihadapkan dengan sambutan yang dingin, seolah-olah mereka ingin mengabaikan fakta ini dan bersikeras agar dia seharusnya menyetujui pembelian lift. Littlepage tidak akan melakukannya, pada saat itu dia berpikir bahwa apa yang terjadi melibatkan korupsi pribadi dan bahwa anggota delegasi telah disogok oleh produsen lift. Tapi setelah Pyatakov, dalam Pengadilan 1937, mengakui hubungannya dengan oposisi Trotskyis, Littlepage terdorong pada kesimpulan bahwa apa yang telah disaksikannya di Berlin jauh lebih banyak daripada korupsi pada tingkat pribadi. Uang yang terlibat dimaksudkan untuk membayar kegiatan oposisi rahasia di Uni Soviet, kegiatan yang mencakup sabotase, terorisme, penyuapan dan propaganda.

Zinoviev, Kamenev, Pyatakov, Radek, Tomsky, Bukharin dan yang lainnya yang sangat dicintai oleh media borjuis Barat menggunakan posisi yang dipercayakan kepada mereka oleh partai dan rakyat Soviet untuk mencuri uang dari negara, untuk memungkinkan musuh sosialisme menggunakan uang itu untuk tujuan sabotase dan perjuangan mereka melawan masyarakat sosialis di Uni Soviet.

Rencana untuk Kudeta

Pencurian, sabotase dan korupsi adalah kejahatan serius dalam diri mereka sendiri, namun kegiatan oposisi justru makin jauh. Sebuah konspirasi kontra-revolusioner sedang dipersiapkan, yang bertujuan mengambil alih kekuasaan negara melalui kudeta di mana seluruh pemimpin Soviet akan dieliminasi, dimulai dengan pembunuhan anggota CC Partai Komunis yang paling penting. Sisi militer kudeta akan dilakukan oleh sekelompok jenderal yang dipimpin oleh Marshal Tukhachevsky.

Menurut Isaac Deutscher, seorang Trotskyite, yang menulis beberapa buku melawan Stalin dan Uni Soviet, kudeta tersebut diprakarsai oleh sebuah operasi militer melawan Kremlin dan pasukan terpenting di kota-kota besar, seperti Moskow dan Leningrad. Konspirasi tersebut, menurut Deutscher, dipimpin oleh Tukhachevsky bersama Gamarnik, kepala komisariat politik tentara, Jenderal Yakir, Komandan Leningrad, Jenderal Uborevich, komandan akademi militer Moskow, dan Jenderal Primakov, seorang komandan kavaleri.

Marsekal Tukhachevsky menjadi perwira di bekas tentara Tsar yang, setelah revolusi, datang ke Tentara Merah. Pada tahun 1930 hampir 10% petugas (mendekati 4.500) adalah mantan perwira Tsar. Banyak dari mereka tidak pernah meninggalkan pandangan borjuis mereka dan hanya menunggu kesempatan untuk memperjuangkannya. Kesempatan ini muncul saat pihak oposisi tengah mempersiapkan kudeta.

Kaum Bolshevik kuat, namun konspirator sipil dan militer berusaha mengumpulkan kawan yang kuat. Menurut pengakuan Bukharin dalam persidangan publiknya pada tahun 1938, sebuah kesepakatan dicapai antara oposisi Trotskyite dan Nazi Jerman, di mana wilayah yang luas, termasuk Ukraina, akan diserahkan kepada Nazi Jerman setelah kudeta kontra-revolusioner di Uni Soviet. Inilah harga yang diminta oleh Nazi Jerman atas janjinya untuk mendukung kontra-revolusioner. Bukharin diberitahu tentang persetujuan Radek ini, yang telah menerima perintah dari Trotsky tentang masalah ini. Semua konspirator yang dipilih untuk memimpin dari posisi tinggi, mengelola dan membela masyarakat sosialis ternyata berhasil menghancurkan sosialisme. Di atas semua itu perlu diingat bahwa semua ini terjadi pada tahun 1930-an, ketika bahaya Nazi berkembang sepanjang waktu dan tentara Nazi mulai berlayar ke Eropa dan bersiap untuk menyerang Uni Soviet.

Para konspirator dijatuhi hukuman mati sebagai pengkhianat setelah pengadilan publik. Mereka yang terbukti bersalah melakukan sabotase, terorisme, korupsi, percobaan pembunuhan dan yang ingin menyerahkan sebagian wilayahnya kepada Nazi tidak dapat mengharapkan hal lain. Untuk memanggil mereka korban yang tidak bersalah tentu saja benar-benar keliru.

Lebih banyak pendusta

Menarik untuk melihat bagaimana propaganda Barat, melalui Robert Conquest, berbohong tentang pembersihan Tentara Merah. Conquest mengatakan dalam bukunya The Great Terror bahwa pada tahun 1937 ada 70.000 petugas dan komisaris politik di Tentara Merah dan bahwa 50% dari mereka (yaitu, 15.000 petugas dan 20.000 komisaris) ditangkap oleh polisi politik dan dieksekusi atau dipenjara dan hidup di kamp kerja paksa. Tuduhan Conquest ini, seperti dalam keseluruhan bukunya, tidak ada satu kata pun yang benar. Sejarawan Roger Reese, dalam karyanya The Red Army and the Great Purges, memberikan fakta-fakta yang menunjukkan pentingnya pembersihan 1937–38 untuk tentara. Jumlah orang dalam kepemimpinan Tentara Merah dan angkatan udara, yaitu perwira dan komisaris politik, adalah 144.300 pada tahun 1937, meningkat menjadi 282.300 pada tahun 1939. Selama pembersihan 1937–38, 34.300 petugas dan komisaris politik dikeluarkan karena alasan politik. Pada bulan Mei 1940, bagaimanapun, 11.596 telah direhabilitasi dan dikembalikan ke jabatan mereka. Ini berarti bahwa selama pembersihan tahun 1937–38, 22.705 petugas dan komisaris politik diberhentikan (sekitar 13.000 perwira militer, 4.700 petugas angkatan udara dan 5.000 komisaris politik), yang berjumlah 7,7% dari semua petugas dan komisaris — tidak 50% sebagaimana yang dituduhkan oleh Conquest. Dari jumlah 7,7% ini, beberapa dipidana sebagai pengkhianat, namun sebagian besar dari mereka kembali ke kehidupan sipil.

Satu pertanyaan terakhir. Apakah pengadilan 1937–38 adil bagi terdakwa? Mari kita periksa, misalnya, persidangan Bukharin, pejabat tertinggi partai yang bekerja untuk oposisi rahasia. Menurut duta besar Amerika di Moskow pada waktu itu, seorang pengacara terkenal bernama Joseph Davies, yang menghadiri keseluruhan persidangan, Bukharin diizinkan untuk berbicara secara bebas sepanjang persidangan dan mengajukan kasusnya tanpa hambatan dalam bentuk apapun. Joseph Davies menulis surat kepada Washington bahwa selama masa percobaan terbukti bahwa terdakwa bersalah atas kejahatan yang mereka tanggung dan bahwa pendapat umum di antara para diplomat yang menghadiri persidangan adalah bahwa adanya konspirasi yang sangat serius telah terbukti.

Mari kita belajar dari sejarah

Diskusi tentang sistem hukuman Soviet selama masa Stalin, di mana ribuan artikel dan buku tentangnya telah ditulis, dan ratusan film telah dibuat dengan menyampaikan kesan yang salah, mengarah pada pelajaran penting. Fakta membuktikan lagi bahwa cerita yang diterbitkan tentang sosialisme di media borjuis sebagian besar salah. Sayap kanan bisa, melalui media, radio dan TV yang mendominasi, menyebabkan kebingungan, mendistorsi kebenaran dan menyebabkan banyak orang percaya bahwa kebohongan adalah kebenaran. Hal ini terutama berlaku bila menyangkut pertanyaan historis. Setiap cerita baru yang berasal dari kanan seharusnya dianggap salah kecuali bisa dibuktikan. Pendekatan hati-hati ini bisa dibenarkan. Faktanya adalah bahwa bahkan mengetahui tentang laporan penelitian Rusia, kaum kanan terus mereproduksi kebohongan yang diajarkan selama 50 tahun terakhir, meskipun sekarang kebohongan itu telah terpapar. Kaum kanan melanjutkan warisan sejarahnya: sebuah kebohongan yang diulang berulang-ulang akhirnya diterima sebagai kebenaran. Setelah laporan penelitian Rusia diterbitkan di barat, sejumlah buku mulai muncul di berbagai negara yang bertujuan untuk mempertanyakan penelitian Rusia dan memungkinkan kebohongan lama mendapat perhatian publik sebagai kebenaran baru. Ini adalah buku-buku yang disajikan dengan baik, diisi dari sampul depan dengan kebohongan tentang komunisme dan sosialisme.

Kebohongan sayap kanan diulang untuk melawan komunis saat ini. Mereka akan diulang hingga pekerja tidak akan menemukan alternatif lain untuk kapitalisme dan neo-liberalisme. Ini semua adalah bagian dari perang kotor melawan komunis, satu-satunya yang punya alternatif untuk ditawarkan untuk masa depan, yaitu masyarakat sosialis. Inilah alasan munculnya semua buku baru yang mengandung kebohongan lama.

Semua ini menempatkan suatu kewajiban pada setiap orang dengan pandangan dunia sosialis terhadap sejarah. Kita harus mengambil tanggung jawab untuk bekerja mengubah koran komunis menjadi surat kabar otentik dari kelas pekerja untuk memerangi kebohongan borjuis! Pastinya ini merupakan misi penting dalam perjuangan kelas saat ini, yang dalam waktu dekat akan muncul lagi dengan kekuatan baru.

Mario Sousa | 15 Juni 1998 | [email protected]

Tak takut lagi ketinggalan

Daftarkan email Anda untuk berlangganan nawala.
[email protected]
Langganan