Bunuh Diri (I)

Tampaknya, bunuh diri memang belum mau melepaskan gelarnya sebagai salah satu pilihan untuk memberi warna pada panggung kehidupan manusia.

Sejarah tak pernah lupa mencatat, bunuh diri pernah menjadi sebuah kegemaran. Ia pernah menjadi semacam epidemi yang dirayakan. Penyebab yang menjadikannya candu tentu saja tak lain tak bukan adalah hadiah besar yang ia mampu berikan: sebuah kesunyian yang mutlak.

Pada awal tahun 1774, Johann Wolfgang von Goethe muda — pada saat itu ia masih 24 tahun — menuliskan sebuah otobiografi yang berjudul “Die Leiden des jungen Werthers“. Karya inilah yang mengubah Goethe dari yang bukan apa-apa, menjadi Goethe sang selebriti dunia literasi. Buku ini adalah sebuah solilokui, yang barangkali sama bentuknya dengan ‘Nyanyi Sunyi Seorang Bisu’ karya Pramoedya Ananta Toer. Berisi kumpulan surat-surat Werther muda yang sedang gandrung. Surat Werther muda yang sedang menderita sebab cintanya kepada Charlotte, seorang gadis cantik dari desa Wahlheim.

Cinta Werther membawa penderitaan bukan karena ia bertepuk sebelah tangan. Malah, bisa dibilang cintanya disambut tepuk tangan yang terlampau riuh. Yang terjadi adalah cinta segitiga, antara Werther, Charlotte, dan suaminya. Kerumitan ini membuat Werther muda kebingungan, tersiksa. Hingga satu saat, ia sampai pada sebuah kesimpulan: seorang dari mereka harus mati agar yang lain bisa bahagia.

Ketidakbisaan Werther mengakhiri hidup orang lain, bahkan ketidakmauannya sekedar menyakiti orang lain membuatnya memutuskan, ia sendirilah yang harus mangkir dari dunia. Dengan pistol pemberian dari Charlotte, ia lubangi kepalanya.

Kumpulan surat galau Goethe kala itu mampu menciptakan apa yang disebut dengan “Werther Fever”. Demam yang menjangkit pemuda-pemudi. Mereka mengenakan pakaian yang sama yang digunakan oleh Werther, juga memanifestasikan kegalauan Werther dalam kehidupan mereka. Pada masa itu juga sempat beredar parfum dengan merek “Eau de Werther”.

Pemuda-pemudi Jerman waktu itu memang terlalu mengidolakannya, hingga tak sedikit yang melakukan apa yang dilakukan oleh Werther. Bunuh diri.

Karya yang dituliskan oleh Goethe telah membuat manusia mengenal istilah copycat suicide untuk pertama kali. Sebuah istilah untuk menyebut tindakan mengimitasikan bunuh diri. Barangkali keberanian tokoh Werther — yang memberontak terhadap segala bentuk etika dan moralitas kuno borjuis yang saat itu memegang kendali — telah menular ke pemuda-pemudi Jerman abad 17 itu. Werther telah tampil kehadapan mereka sebagai sosok pahlawan muda yang ‘menjadi diri sendiri dan jujur terhadap perasaannya sendiri’. Ketika para pemudanya kebingungan mencari makna pada kehidupan, yang ditawarkan Goethe melalui Werther tentunya adalah hal yang luar biasa. Werther juga berperan dalam menginisiasi satu periode di Jerman yang disebut dengan Sturm und Drang, periode yang penuh dengan gejolak emosi. Tapi bukankah para sejarawan dan sastrawan telah sering menceritakan bagaimana sebuah kehidupan bila dibangun dengan penuh emosi?

Baru-baru ini saya membaca berita tentang seorang pelajar yang gantung diri di dalam almari. Dari yang saya baca, saya ketahui bahwa ia gemar menonton anime dari Jepang. Sumber lain mengatakan ia menyukai cerita detektif. Dalam Meitantei Conan atau dalam Kindaichi Shōnen no Jikenbo memang banyak kasus di mana korban dibuat seolah-olah bunuh diri. Sejauh pembacaan saya terhadap komik Jepang tersebut, saya tak pernah menjumpai ada kasus yang benar-benar bunuh diri. Dalam hampir setiap kasus, yang ada hanyalah tentang pembunuhan terencana. Lantas anime apa yang dianggap menginspirasinya untuk mengakhiri hidup? Bagi saya justru lebih besar kemungkinan bacaan dan tontonan tersebut dapat menginspirasi seseorang untuk melakukan sebuah pembunuhan yang terencana dengan baik. Seperti melakukan pembunuhan ruang tertutup, misalnya. Atau menciptakan alibi yang sempurna agar terbebas dari tuduhan. Lepas dari tuduhan seperti pelaku korupsi.

— Ah, sudahlah. Saya tak ingin menuliskan ihwal almari lebih jauh lagi…

Sitor Situmorang mengungkapkan kekagumannya pada bunuh diri dalam lakonnya “Jalan Mutiara” melalui tokoh Basuki. Ia percaya bahwa bunuh diri membutuhkan keberanian yang amat besar.

“… Saya sudah lama mengagumi orang bunuh diri. Tetapi dua macam. Ada yang bunuh diri waktu gelap mata. Itu saya tolak. Ia masih tetap korban. Tapi bunuh diri dengan kesadaran, diperhitungkan baik-baik, saya kira itulah sesungguhnya keberanian yang paling besar….”

Tak aneh memang anggapan tersebut, mengingat beliau telah banyak terpengaruh oleh eksistensialisme yang juga tampak pada sajak-sajaknya. Beliau pun menganggap bahwa satu-satunya jalan manusia untuk dapat mempecundangi takdir adalah dengan mengakhiri hidup.

Seandainya beliau masih ada, betapa saya ingin menanyakan apa yang dimaksudkannya dengan ‘gelap mata’. Apakah Werther yang sadar ketika memutuskan untuk bunuh diri, sudah lolos dari predikat korban?

Setelah letusan pistol Werther meledak di kepalanya sendiri, butuh 12 jam lamanya sebelum ia mati. Ketika ia akhirnya dimakamkan di bawah pohon linden, tak satu pun orang menghadiri pemakamannya. Tak ada pendeta, tak ada juga Charlotte dan kekasihnya.

Masihkah ia termasuk bukan korban?

Sejauh ini, masih menjadi perdebatan ihwal bunuh diri, apakah ia merupakan sebuah keberanian atau kepengecutan. Saya sendiri belum temukan jawaban. Yang saya ketahui, bunuh diri adalah sekaligus keduanya. Sekedar keingingan takkan cukup. Ia butuh keberanian dan kepengecutan yang sama besar untuk dapat mewujud dalam sebuah kejadian.

Bersambung…


Tambahan: Sebentar lagi adalah peringatan 100 hari kepulangan ‘Si Anak Hilang’, Sitor Situmorang. Mari kita doakan dan karya beliau kita bacakan.

Tak takut lagi ketinggalan

Daftarkan email Anda untuk berlangganan nawala.
[email protected]
Langganan