adityawarmanfw

Braga

BARU TUJUH PUTARAN LAGU yang lalu pemuda itu bilang tak lagi membahas politik. Ia tak menyangka pertanyaan soal seperti apa perempuan yang…

BARU TUJUH PUTARAN LAGU yang lalu pemuda itu bilang tak lagi membahas politik. Ia tak menyangka pertanyaan soal seperti apa perempuan yang membuat seorang pemuda menenggak berbotol bir, menghabiskan berbatang rokok sendirian di sebuah kafe di Braga di kota yang menyedihkan ini mendapat jawaban seperti itu.


“Sedang menunggu orang?”

Pemuda itu menggeleng dan balik menanyakan hal yang sama.

“Sama. Sering ke sini?”

Enggak. Pernah sekali, diajak kawanku yang ulang tahun. Kau?”

“Belum. Ini yang pertama. Oh, ya. Namaku Sarah,” katanya sambil memegang pegangan cangkir dengan jari telunjuk dan jempol seperti mencubit lalu memutar cangkir itu. Matanya menatap ke sana. Buih cokelat di dalamnya tak ikut berputar. Pemuda itu diam sebentar, sedikit kaget, tapi segera sadar dan balik memperkenalkan diri.

“Aku Nyali,” jawabnya dengan suara yang dipelankan.

Ia meloloskan jari tengah dan jari manis tangan kirinya ke lingkar pegangan cangkir, melekapkan kedua telapak tangannya ke badan cangkir, membaui aroma cokelat yang menguar dan menyesap isinya pelan.

“Bagus, ya, namamu itu,” katanya sambil menghadapkan muka ke jendela, setelah cokelat hangat melewati kerongkongan dan sekarang menghangatkan dadanya. Sedikit lebih tenang sekarang. Orang-orang itu benar betul soal cokelat.

Atas saran ibunya dia peroleh nama itu. Sebabnya sederhana saja, menikah membutuhkan nyali. Butuh kesiapan dan pengorbanan yang besar untuk mau mengorbankan sisa hidup bersama orang lain. Nama itu mencerminkan kesiapan ibunya. Tapi buatnya sekarang, menikah dan berkeluarga masih menjadi hal konyol dan termasuk dalam daftar terakhir hal-hal yang akan dia lakukan.

“Lalu sedang apa kau di sini, minum sebanyak itu, sendirian pula?”

“Biasa…”

“Biasa minum sebanyak itu? Atau biasa sendirian?”

“Dua-duanya.”

“Tak baik sendirian, kau tahu.”

“Benar juga. Orang mesti berkumpul dengan yang lain.”

“Bukan. Orang mesti berkekasih,” kata Sarah. “Sendirian membosankan. Orang bisa mati karena bosan dan itu menyedihkan.”

“Hahaha. Kau sendirian.”

“Sedang ingin.”

“Sekarang masih?”

“Kau terganggu ya?” tanya Sarah sambil meletakkan cangkir kembali di meja.

“Tidak juga. Kupikir benar juga katamu tadi. ”

“Yang mana? Berkekasih?”

“Tak baik sendirian.”

Sarah tampak ingin tertawa. Nyali juga. Tapi tak jadi.

Di ruangan itu, membran pengeras suara masih bergetar. Lagu terus berputar. Suara Frank Sinatra masih terdengar. Sekarang ia sedang menyanyikan Strangers in the Night, lagu yang belum jelas betul penciptanya.

“Masih sering ke kampus?”

“Beberapa kali. Tak sesering dulu. Kelar sudah kuliahku.”

“Lulus?”

“Tugas Akhir. Tapi sudah tak ada kelas.”

“Sama. Aku sering melihatmu di kantin belakang fakultas.”

“Kau menguntit?”

“Haha. Melihat.”

“Aku pun sering sebenarnya.”

“Menguntit?”

“Melihatmu di kantin. Kau merokok?”

Nyali memungut sebatang dari kotak yang isinya tinggal separuh, memijit dan memutar batang itu dengan jarinya sebelum dimasukkan dalam mulut dan disulut.

“Aku mencoba berhenti.”

“Karena kesehatan?”

“Ya. Merokok membunuh. Foto itu menjijikkan. Memang kau tak mau sehat?”

“Palsu itu. Tidak merokok membunuh petani tembakau, tahu.”

“Klise. Ah. Kau suka menulis?”

“Lumayan. Iseng-iseng saja.”

“Apa kau tulis?”

“Apa saja yang terpikir. Kebanyakan hal tak penting.”

“Kau suka baca juga berarti?”

“Tentu. Kau?”

“Buku apa?”

“Roman. Wacana. Sejarah.”

Kewl. Ada yang bisa kau rekomendasikan untukku?”

“Kau suka apa?”

“Apa menurutmu yang bagus?”

“Centhini. Atau buku-buku Pram.”

“Apa itu?”

“Cerita soal Jawa, sih. Mirip Babad. Coba baca terjemahan Elizabeth Inandiak.”

“Hahaha. Aku tahu Centhini. Isinya selangkangan saja itu. Kenapa kau rekomendasikan itu? Pramoedya yang tetralogi Bumi Manusia juga sudah habis kubaca.”

“Oh, kau sudah tahu? Ya, memang, sih. Soal selangkangan. Tapi bagus kan?”

“Ya, memang. Terjemahannya liris.”

“Sepertinya selera baca kita mirip.”

“Hanya karena selangkangan dan Pram kau sudah simpulkan kita punya kesamaan?” tanya Sarah. Raut mukanya menjelaskan ia sedang setengah bercanda.

“Mirip saja kubilang,” Nyali mengingatkan. “Ah, ya, kau tahu riwayat kafe ini dulu?”

“Kau mau cerita?”

“Dulu bangunan ini rumah makan Hongkong,” katanya. “Di seberang jalan sana, dulunya ada prostitusi,” ia melanjutkan sambil menunjuk dengan jari telunjuk dan tengahnya yang sedang mengapit rokok ke arah Jalan Kejaksaan.

“Selangkangan lagi?”

“Haha. Maaf. Tapi ini penting. Di sanalah muncul istilah Mojang Priangan. Itu bukan sembarang tempat pelacuran, pekerjanya berdarah campuran,” kata Nyali menjelaskan sambil masih menghadap ke jalan.

“Iya. Aku tahu, itu, kok. Pernah aku baca di buku punya ayahku.” kata Sarah. Ia tak mau pura-pura penasaran soal apa yang sudah diketahuinya. “Ayahku mengajar sejarah.”

“Oh, ya?” tanya Nyali. Barangkali sedikit malu.

“Ya. Aku beruntung, dia punya banyak buku. Juga punya banyak cerita. Eh, kau tahu ke mana perginya mojang-mojang itu?”

“Entah. Pulang mungkin. Yang kutahu maharnya sekitar 10 gulden per setubuhan.”

“Hahaha. Enak saja kau bilang per setubuhan.”

“Memang enak kan?”

Hmm,” Sarah diam sejenak. Menunjukkan sikap mau memprotes, tapi urung. “Kurasa lebih mahal lagi. Harga itu untuk Eropa dan Jepang. Mojang-mojang itu bisa saja lebih tinggi lagi.”

“Bisa jadi.”

“Kau tahu, di Cisokan ramai sekarang yang mirip seperti itu. Hanya saja bukan Belanda, tapi Jepang.”

“Seperti tanam paksa.”

“Buku apa lagi yang bisa kau rekomendasikan?”

“Apa, ya. Manifesto Komunis?” kata Nyali sambil sedikit tersenyum.

“Hahaha,” Sarah terbahak, tapi tak hilang keanggunannya. “Kau ini. Sudah Pramis, marxis pula rupanya.”

“Selagi masih muda. Muda tak sosialis berarti tak punya hati.”

“Mana ada marxis yang sendirian, bung!”

“Hahaha. Sudah, jangan bicara politik lagi.”

“Apa dong?”

“Film. Kau suka film apa? Selain serial korea, ya.”

“Banyak. Tapi aku baru selesai tonton 5 to 7. Tahu kau?”

“Tidak,” Nyali menggelengkan kepala sedikit. “Apa itu? Judul yang aneh.”

“Tentang penulis Amerika yang tulisannya melulu ditolak oleh majalah-majalah. Di satu sore dia bertemu dengan seorang perempuan Perancis, mantan model kalau aku tak keliru, yang sudah berkeluarga. Mereka menjalin hubungan dengan aturan hanya bertemu pada jam 5 sore sampai 7 malam setiap hari dalam seminggu.”

“Bagus kah?”

“Lumayan. Walau banyak percakapan klise.”

“Bagaimana akhirnya?”

“Pertanyaan apa itu? Kau tonton sendiri lah.”

“Maaf. Baiklah, nanti akan kucoba cari.”

PERCAKAPAN BERHENTI. Keduanya melihat jendela. Gerimis sudah dari tadi berhenti. Braga ramai sudah. Keduanya mengingat-ingat hal yang mungkin sudah dilupakan: bagaimana bisa sampai ke tempat ini.

“Kau tahu maksud lukisan itu?” tanya Sarah menunjuk satu lukisan abstrak yang tergantung di tembok belakang Nyali. Dia menoleh.

“Yang merah itu?”

“Ya. Ah. Itu bukan merah. Itu scarlet.

“Sama saja.”

“Tak sama. Scarlet lebih gelap dari merah, tapi sedikit lebih cerah dari darah,” kata Sarah menjelaskan. “Tapi memang laki-laki tak terlalu paham yang seperti itu. Atau tak peduli. Itu karena mata kita berbeda.”

“Bagaimana?”

“Mata kita terus berevolusi. Perempuan lebih jeli dalam membedakan warna karena ketika zaman manusia purba, kami lebih banyak mendapat bagian meramu, jadi terbiasa membedakan buah atau biji dari warna. Laki-laki sepertimu berburu. Maka mata kalian lebih canggih untuk memetakan ruang dan memerkirakan jarak.”

“Meramu biji?”

“Selangkangan lagi kau ini.”

Nyali tersenyum saja. Lalu berusaha menjawab pertanyaan soal lukisan, “Aku tak begitu paham soal lukisan. Tapi kata kawanku, kalau kau melihat lukisan abstrak, coba saja bayangkan bagaimana proses pelukisannya. Bagaimana pelukis yang entah siapa itu memegang kuas di tangan kanannya, diam sejenak di depan kanvas, memejamkan mata, mencolek cat dari palet, diam lagi, lalu memberikan goresan pertama. Perhatikan arah kuasnya. Bisa juga kau bayangkan, di tengah proses itu, sang pelukis diam lagi, mencopot kaus atau mengikat rambut atau menyeruput kopi atau menyalakan rokok atau pergi ke kamar mandi untuk berak dan inspirasi. Bayangkan keringat yang muncul di pelipis dan jidatnya, jatuh perlahan sedikit bergetar seperti kuasnya yang menyapu kanvas lalu — ”

Sarah diam. Ia memandangi lukisan itu, membayangkan bagaimana pelukis memulainya kemudian memejamkan mata. Mungkin untuk menambah konsentrasi atau agar lebih mudah membayangkan. Nyali berhenti membual dan memandanginya sambil terus menghisap rokoknya. Mungkin takjub karena perempuan itu percaya. Jika saja di dalam kafe ini tumbuh pohon Bodhi, maka miriplah Nyali seperti Sidharta yang habis semadi sendirian lalu mencerahkan murid pertamanya.

“Tapi bagaimana mengartikan bentuk abstrak itu?” tanya Sarah setelah apa pun yang dilakukannya itu selesai.

“Tak tahu. Pikirkan saja yang ilahiah-ilahiah,” jawab Nyali sekenanya sambil mengangkat pundak.

Di ruangan itu, membran pengeras suara masih bergetar mengembuskan suara. Lagu terus berganti dan berputar. Kali ini, terdengar suara terompet dan piano yang familiar untuk keduanya. La Vie en Rose.

“Kau mau cokelat? Kata orang-orang cokelat bisa menghilangkan kesedihan.”

“Kau sedang sedih kah?”

“Bukannya kau juga? Bir tak akan menyelamatkanmu. Tapi cokelat bisa. Apalagi dariku. Mau?”

“Baiklah. Tak apa aku minum dari cangkirmu?”

“Tentu saja. Tapi sudah dingin,” kata Sarah sambil mendorong cangkir cokelat di atas meja itu ke dekat Nyali. Dia mengangkat lalu meminumnya seteguk. Benar sudah dingin, batinnya. Cokelat itu melewati kerongkongan Nyali, tapi tampaknya tak berdampak apa-apa.

“Bagaimana?” tanya Sarah.

“Entahlah. Sudah dingin.”

“Memang kau kenapa? Patah hati? Baru ditolak?”

“Haha.”

“Dengan botol sebanyak ini dan puntung semenggunung itu, hampir pasti ini soal perempuan. Haha. Orang seperti apa dia, bung?”

Nyali tersenyum. Kurang ajar sekali tebakan lawan bicaranya. Setelah menenggak yang tersisa dalam botol itu, ia menjawab, “Dia cantik. Anggun. Sederhana. Tak tahulah. Aku susah mendeskripsikannya.”

“Lalu?”

“Hmm. Apa lagi, ya,” Nyali diam sejenak untuk berpikir.

Sarah menunggu jawaban.

“Dia orang yang mirip denganku. Bersepakat dengan perlawanan bersenjata kelas pekerja untuk menumbangkan kelas penguasa.”

Woh. Dasar komunis!”

“Hahaha. Bukan. Ini romantik revolusioner namanya!”

Setelah gerimis di kafe di Braga di kota yang menyedihkan itu, membran pengeras suara masih bergetar mengembuskan suara. Lagu terus berganti dan berputar. Kali ini ia memutar lagu seorang penyanyi laki-laki bersuara serak yang berjudul entah apa.